Siklon Tropis Senyar dan Koto Ungkap Ancaman Iklim Baru yang Mengintai Sumatera
Fenomena terbentuknya Siklon Tropis Senyar dan Koto di sekitar Selat Malaka memicu gelombang kejut ilmiah dan sosial.
Table Of Content
Tidak hanya menyebabkan banjir dan longsor di berbagai wilayah Sumatera, dua siklon ini juga disebut sebagai fenomena yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia.
Keberadaannya dianggap sebagai bukti nyata bahwa pola iklim di kawasan tropis, khususnya Indonesia, telah mengalami perubahan signifikan.
BMKG menyatakan bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat, angin kencang, hingga gelombang tinggi akibat dua siklon yang masih terus bergerak.
Fenomena Siklon yang Tidak Pernah Terjadi di Dekat Sumatera
BMKG menegaskan bahwa kemunculan siklon tropis di wilayah dekat garis ekuator adalah hal yang amat jarang.
Secara ilmiah, siklon seharusnya melemah atau mati ketika mendekati ekuator, sehingga kemunculan Senyar dan Koto menjadi anomali besar.
Ramlan Djambak mengatakan, “fenomena Siklon Tropis Senyar dan Siklon Koto yang terjadi di Selat Malaka ini bisa dibilang sebagai yang pertama dalam sejarah manusia.”
Ia menambahkan bahwa Laut China Selatan—yang menjadi potensi jalur pergerakan siklon—adalah wilayah laut yang sempit dan seharusnya tidak mendukung pertumbuhan sistem siklon.
Namun, kenyataannya berbeda.
“Laut China Selatan itu kan laut sempit. Biasanya siklon akan tumbuh awalnya di laut lepas, laut luas. Ini malah di laut sempit dan bahkan bergerak ke daratan,” tuturnya.
Pernyataan ini memperkuat dugaan bahwa perubahan iklim global semakin memunculkan pola cuaca ekstrem yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Jejak 5 Tahun Terakhir: Siklon Lebih Sering Mendekati Indonesia
BMKG menyoroti bahwa dalam lima tahun terakhir, beberapa sistem siklon mulai mendekati Indonesia dan memberikan dampak besar, seperti di Bengkulu dan siklon Cempaka pada 2017.
Ramlan menegaskan jika perubahan iklim ini sudah nyata.
”Memang (siklon) ini tidak wajar, tumbuh siklon ini tidak pernah ada siklon itu apalagi di dekat Sumatera,” ujarnya.
Anomali ini memperlihatkan bahwa Indonesia kini semakin rentan terhadap bencana hidrometeorologi yang berasal dari sistem atmosfer skala besar, yang sebelumnya hampir tidak pernah terjadi.
Ancaman Jangka Pendek: Dampak Cuaca Ekstrem Mengintai Kepri
Dua siklon tersebut diperkirakan masih aktif dalam tiga hari ke depan.
BMKG mengingatkan bahwa Kepulauan Riau juga bisa terdampak apabila pergerakan siklon menuju Laut China Selatan.
“Dampak dari siklon adalah berkumpulnya awan potensi hujan, angin kencang yang dapat memicu gelombang tinggi dan pohon tumbang,” kata Ramlan.
Kondisi ini membuat masyarakat di wilayah pesisir hingga pegunungan perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap banjir, banjir bandang, dan longsor yang dapat terjadi sewaktu-waktu.


