Korban Tewas Banjir Sumatera Hampir 500 Orang, Ratusan Masih Dinyatakan Hilang
Bencana yang melanda tiga provinsi di Sumatera: Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat, telah berkembang menjadi krisis kemanusiaan berskala besar.
Jumlah korban jiwa terus bertambah sementara ratusan ribu warga masih mengungsi.
BNPB bersama berbagai unsur pemerintah sedang mengerahkan seluruh sumber daya untuk mempercepat proses penyelamatan dan pemulihan awal.
Dengan kondisi akses terputus di banyak wilayah serta jumlah warga terdampak mencapai lebih dari satu juta jiwa, upaya penanganan kini masuk fase paling kritis.
BNPB menetapkan empat prioritas dalam penanganan darurat bencana di Sumatera:
- Pencarian dan pertolongan korban
- Tim SAR gabungan, TNI, Polri, dan relawan terus memperluas area pencarian meliputi wilayah yang sebelumnya tidak dapat dijangkau akibat akses terputus.
- Pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi
- Ratusan ribu pengungsi membutuhkan layanan kesehatan, makanan siap saji, air bersih, serta sanitasi darurat.
- Pembukaan akses wilayah terisolir
- Banyak desa tidak dapat ditembus karena jalan amblas dan jembatan roboh. Pemerintah mengirim alat berat dan logistik udara.
- Percepatan distribusi logistik
- Pendistribusian dilakukan melalui jalur darat, udara, dan penugasan helikopter ke wilayah terpencil.
“Penanganan difokuskan pada empat prioritas utama: pencarian dan pertolongan korban, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, pembukaan akses wilayah yang terisolir, serta percepatan distribusi logistik,” jelas Abdul Muhari.
Korban Jiwa Mendekati 500, Ratusan Masih Hilang
Data terbaru menunjukkan tingkat keparahan yang sangat tinggi:
- 441 korban meninggal dunia
- Sumatera Utara: 216 jiwa
- Sumatera Barat: 129 jiwa
- Aceh: 96 jiwa
- 406 korban hilang
- 646 luka-luka
- 1,1 juta jiwa terdampak
- 209.700 jiwa mengungsi
- 46 kabupaten/kota terkena dampak langsung
Angka korban diperkirakan masih dapat berubah mengingat banyak wilayah belum sepenuhnya terjangkau tim evakuasi.
Infrastruktur Rusak Masif Jadi Tantangan Terbesar
Total 2.821 rumah rusak, belum termasuk 43 fasilitas pendidikan dan 133 jembatan yang terputus. Skala kerusakan inilah yang menyebabkan proses distribusi bantuan sangat terhambat.
Upaya pemulihan akses terus dilakukan dengan pengerahan alat berat dan pembangunan jembatan darurat. Namun medan curam dan longsor susulan menjadi hambatan utama.
Dengan skala pengungsian yang besar, ancaman penyakit menular serta keterbatasan logistik menjadi fokus lanjutan.
Pemerintah daerah diminta memperkuat koordinasi untuk percepatan bantuan dan penanganan kesehatan di lapangan.


