Profil Lengkap Mirwan M. S., Bupati Aceh Selatan yang Ramai Dibahas Usai Berangkat Umrah Saat Banjir
Jadigini.com – Mirwan M. S. merupakan salah satu figur politik yang cukup berpengaruh di Aceh Selatan. Ia dikenal sebagai politisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan berhasil terpilih sebagai Bupati Aceh Selatan untuk masa jabatan 2025–2030. Lahir pada 9 Maret 1975, Mirwan tumbuh di lingkungan yang dekat dengan dinamika masyarakat Aceh Selatan, sehingga memahami betul karakter serta kebutuhan warganya.
Table Of Content
Pelantikannya sebagai bupati dilakukan pada 17 Februari 2025 oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf di gedung DPRK Aceh Selatan. Momen tersebut menjadi penanda dimulainya era kepemimpinan baru yang diharapkan mampu membawa perubahan positif bagi pembangunan daerah. Banyak masyarakat, terutama para pemilih yang mendukungnya, menaruh harapan besar terhadap visi pembangunan yang ia sampaikan selama masa kampanye.
Karier Politik dan Perannya di Partai Gerindra
Sebelum menduduki kursi bupati, Mirwan telah lama aktif dalam kepengurusan Partai Gerindra di Aceh Selatan. Ia menjabat sebagai Ketua DPC Partai Gerindra, sebuah posisi strategis yang memperkuat pengaruhnya dalam politik lokal. Di bawah kepemimpinannya, Gerindra berhasil memperluas jangkauan suara dan membentuk basis dukungan yang kuat di berbagai kecamatan.
Perannya di partai membuat Mirwan dikenal sebagai sosok yang mudah berkomunikasi dengan masyarakat akar rumput. Ia kerap terlibat dalam kegiatan sosial, menghadiri acara komunitas, dan berdialog dengan warga untuk memahami masalah yang mereka hadapi. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu modal politiknya ketika maju dalam Pilkada.
Kemenangan di Pilkada Aceh Selatan 2024
Pada Pilbup Aceh Selatan tahun 2024, Mirwan mencalonkan diri sebagai bupati berpasangan dengan Baital Mukadis, politisi Partai Demokrat yang memiliki pengalaman birokrasi cukup kuat. Pasangan ini menyusun visi pembangunan daerah berbasis pemerataan, transparansi, dan digitalisasi pelayanan publik.
Kampanye mereka menekankan komitmen meningkatkan kualitas infrastruktur, mengoptimalkan sektor pertanian, serta memperkuat penanganan bencana yang menjadi isu strategis di Aceh Selatan. Komunikasi politik yang intens, pendekatan langsung ke masyarakat, dan jaringan partai yang solid menjadi kunci keberhasilan pasangan ini.
Hasilnya, pasangan Mirwan–Baital meraih 51.609 suara atau 36,32 persen dari total suara sah. Perolehan tersebut mengantarkan mereka sebagai pemenang Pilkada dan mendapat legitimasi kuat dari masyarakat Aceh Selatan.
Tugas Awal Kepemimpinan dan Tantangan Daerah
Memimpin Aceh Selatan bukanlah tugas mudah. Daerah ini memiliki tantangan yang cukup kompleks, mulai dari bencana alam yang rutin terjadi, keterbatasan infrastruktur, hingga kebutuhan peningkatan layanan publik. Sebagai bupati baru, Mirwan dihadapkan pada tuntutan untuk bergerak cepat dalam menghadirkan kebijakan yang responsif.
Salah satu isu awal yang harus ia hadapi adalah bencana banjir yang melanda beberapa kecamatan. Banjir tidak hanya merusak rumah warga tetapi juga memutus akses jalan, mengganggu aktivitas ekonomi, dan membuat ribuan warga membutuhkan penanganan darurat. Situasi ini membutuhkan kehadiran pemerintah secara penuh untuk memastikan distribusi bantuan berjalan efektif.
Polemik Keberangkatan Umrah Saat Daerah Dilanda Banjir
Nama Mirwan mendadak menjadi sorotan nasional setelah beredar foto dirinya berada di Tanah Suci untuk menjalankan ibadah umrah. Keberangkatan itu dilakukan hanya beberapa hari setelah pemerintah daerah mengeluarkan surat resmi yang menyatakan bahwa mereka kewalahan menangani banjir dan membutuhkan dukungan dari pemerintah provinsi maupun pusat.
Foto tersebut awalnya diunggah oleh akun biro perjalanan umrah dan dengan cepat menyebar luas di media sosial. Banyak masyarakat mempertanyakan mengapa seorang pemimpin memilih melakukan perjalanan spiritual ketika daerahnya sedang dalam kondisi darurat.
Kritik berdatangan dari warganet, aktivis, hingga pengamat kebijakan publik. Mereka menilai bahwa waktu keberangkatan tidak tepat dan menunjukkan kurangnya sensitivitas terhadap penderitaan warga. Di saat masyarakat membutuhkan kehadiran pemimpin, Mirwan justru berada jauh dari wilayah yang sedang dilanda krisis.
Harapan Publik dan Langkah ke Depan
Meski kontroversi ini mencoreng awal masa jabatannya, masyarakat tetap menaruh harapan bahwa Mirwan dapat memperbaiki komunikasi publik dan menunjukkan kepemimpinan yang lebih responsif ke depannya. Ia dinilai masih memiliki kesempatan besar untuk membuktikan diri sebagai pemimpin yang mampu membawa Aceh Selatan ke arah yang lebih baik.
Keberhasilan dalam penanganan bencana, percepatan pembangunan infrastruktur, serta tata kelola pemerintahan yang transparan menjadi indikator yang sangat dinantikan publik. Polemik umrah ini bisa menjadi pelajaran penting bagi Mirwan untuk lebih berhati-hati dalam menentukan prioritas dan membaca situasi.


