Miris! Harga Tiket Pesawat di Bener Meriah Melonjak Gila-Gilaan Saat Warga Terjebak Banjir
Kenaikan harga tiket pesawat di Bandara Rembele, Bener Meriah, menjadi sorotan tajam masyarakat setelah tarif penerbangan melonjak drastis di saat daerah tersebut sedang dilanda bencana banjir. Kondisi darurat yang membuat akses darat terputus sepenuhnya membuat ratusan warga tak memiliki pilihan selain mengandalkan jalur udara. Namun, harga tiket yang tidak wajar membuat situasi semakin rumit bagi warga yang ingin keluar dari wilayah terisolasi itu.
Table Of Content
Harga Tiket Melonjak Berkali Lipat
Para penumpang yang hendak terbang dari Bener Meriah ke sejumlah kota melaporkan tarif yang tidak masuk akal. Untuk rute Rembele–Kualanamu, Sumatera Utara, tiket yang biasanya hanya sekitar Rp 500 ribu kini melonjak menjadi Rp 3.500.000 per orang. Bahkan menurut informasi yang beredar di bandara, harga diprediksi bisa mencapai Rp 5.000.000 pada hari berikutnya.
Nurhayati, seorang warga yang hendak pulang ke Sumatera Utara, mengaku terkejut dan tidak menyangka harga tiket bisa menembus angka begitu tinggi. “Kami tadi beli tiket Wings Air Rp 3,5 juta. Katanya besok bisa sampai Rp 5 juta,” ujarnya. Meski keberatan, ia tetap membeli tiket karena ingin segera bertemu keluarganya.
Rute Banda Aceh Lebih Fantastis: Mencapai Rp 8 Juta
Tarif penerbangan ke Banda Aceh tidak kalah mengejutkan. Untuk rute Rembele–Banda Aceh, warga harus membayar hingga Rp 8.000.000 untuk satu kursi pesawat Susi Air. Kenaikan ekstrem tersebut terjadi karena penerbangan menggunakan sistem carter, bukan jadwal reguler.
Sistem carter membuat biaya operasional lebih tinggi dan langsung dibebankan ke penumpang. Di tengah keadaan darurat, kebutuhan warga untuk keluar dari wilayah banjir membuat permintaan sangat tinggi, sementara jumlah pesawat sangat terbatas. Situasi ini menciptakan lonjakan harga yang sulit dihindari.
Bandara Rembele Jadi Satu-Satunya Harapan
Sejak bencana banjir melanda Bener Meriah, akses darat menuju wilayah lain lumpuh total. Banyak titik jalan amblas, tertutup material lumpur, atau tidak dapat dilewati karena pohon tumbang serta aliran air yang masih deras. Selain itu, listrik di sebagian besar wilayah masih padam dan jaringan telekomunikasi belum kembali stabil.
Dalam kondisi seperti ini, Bandara Rembele menjadi satu-satunya pintu keluar yang masih memungkinkan. Tidak heran jika warga menyerbu bandara, meski harus membayar harga tiket yang jauh di luar batas kewajaran. Ratusan orang terlihat memadati ruang tunggu, beberapa di antaranya bahkan rela mengantre sejak pagi untuk mendapatkan slot penerbangan.
Minim Pesawat, Permintaan Tak Terkendali
Jumlah pesawat yang melayani penerbangan dari Bandara Rembele sangat terbatas. Dalam kondisi normal saja, penerbangan dari bandara ini tidak terlalu padat. Namun saat bencana, kebutuhan melonjak drastis karena warga ingin mencari tempat aman, pulang ke kampung halaman, atau keluar dari daerah terisolasi.
Permintaan yang tinggi dan armada yang minim membuat tarif menjadi tidak terkendali. Kondisi ini menjadi dilema bagi warga karena tidak semua mampu membayar harga tiket yang sangat mahal. Bagi sebagian orang, membayar jutaan rupiah untuk satu kursi pesawat bukan pilihan yang realistis.
Warga Nekat Lewati Gunung Demi Selamat
Tidak sedikit warga yang mengaku tak sanggup membeli tiket pesawat dan memilih jalur ekstrem: berjalan kaki melewati pegunungan. Mereka menembus jalur hutan menuju Aceh Utara atau Bireuen demi keluar dari situasi terisolasi. Meskipun jalur ini penuh risiko karena kondisi licin, tebing curam, serta potensi longsor, banyak warga tetap mencobanya karena tidak memiliki alternatif lain.
Langkah nekat tersebut dipilih karena kondisi darurat yang memaksa mereka segera keluar. Jalur pegunungan dianggap sebagai pilihan paling masuk akal dibanding membayar tiket pesawat seharga puluhan kali lipat tarif reguler.
Desakan Untuk Pemerintah Turun Tangan
Kenaikan harga tiket pesawat yang tidak masuk akal di tengah bencana memunculkan desakan kepada pemerintah untuk segera turun tangan. Banyak pihak menilai perlu ada regulasi sementara terhadap sistem carter selama darurat bencana agar warga tidak terbebani biaya perjalanan yang sangat tinggi.
Selain itu, warga berharap pemerintah dapat menambah armada pesawat atau membuka jalur bantuan udara lainnya untuk mengurangi antrean dan menstabilkan harga.


