Derby Roma: Ketika Kota Abadi Terbelah Dua
Derby della Capitale bukan sekadar pertandingan antar dua klub. Ini adalah duel identitas yang membelah kota Roma menjadi dua sisi yang saling menolak untuk mengalah bahkan sebelum sepak bola ikut terlibat. Intensitas, sejarah, dan dinamika sosial membuat derby ini menjadi salah satu rivalitas paling pribadi dan emosional di Eropa.
Table Of Content
Akar Sosial Dua Klub
Rivalitas ini berakar dari sejarah pembentukan kedua klub. AS Roma berdiri pada 1927 setelah rezim Mussolini menyatukan beberapa klub kecil untuk menciptakan satu tim besar yang mewakili ibu kota. Dari awal, Roma memiliki basis pendukung kelas pekerja dan masyarakat urban di pusat kota.
Lazio, yang berdiri sejak 1900, menolak bergabung dalam merger tersebut. Keputusan ini membuat mereka dipandang sebagai klub yang berjalan sendiri dan lebih dekat dengan kelompok masyarakat yang mapan serta konservatif pada masa itu.
Perbedaan sosial inilah yang menjadi fondasi rivalitas: Roma dan Lazio mewakili dua wajah berbeda dari satu kota yang sama.
Ultras, Loyalitas, dan Kota yang Terbelah
Memasuki era 1970–1990an, Derby Roma berubah menjadi arena sosial yang jauh lebih besar daripada sekadar pertandingan. Kultus ultras berkembang pesat, membawa kultur bentrokan, koreografi ekstrem, spanduk provokatif, dan balas-balasan simbolis yang memperdalam jurang antara kedua kubu.
Curva Sud milik AS Roma dikenal sebagai pusat ekspresi rakyat kota: keras, emosional, dan penuh kebanggaan. Curva Nord milik Lazio tumbuh lebih terorganisir, dengan struktur yang kuat dan identitas politik yang jelas. Kedua tribun ini bukan sekadar tempat duduk; keduanya adalah institusi budaya.
Di Roma, mendukung klub bukan pilihan. Itu warisan keluarga. Kebencian derby ini diturunkan dari ayah ke anak, dari generasi lama ke generasi baru. Identitas yang terikat pada satu klub berarti memegang tradisi tertentu, entah itu warna, simbol, atau sikap terhadap rival.
Dan karena itu, meskipun kekerasan fisik kini dikendalikan, tensi emosionalnya tetap tak tersentuh waktu.
Luka-Luka Sejarah yang Tak Pernah Sembuh
Sejarah Derby Roma dipenuhi momen-momen yang memperkuat rivalitas. Era Paul Gascoigne dan Giuseppe Signori pada awal 1990an menampilkan pertandingan penuh provokasi dan fisik keras. Gestur Francesco Totti yang mencium logo Roma di depan Curva Nord tetap menjadi salah satu simbol provokasi paling ikonik dalam sejarah Serie A.
Keberhasilan Lazio meraih scudetto pada 2000, diikuti Roma setahun kemudian, membuat kota seolah terbagi menjadi dua kebanggaan yang saling membalas. Banner-banner kontroversial yang kerap muncul menjadi bahan bakar baru, dan keputusan Pedro pindah langsung dari Roma ke Lazio hanya mempertebal luka yang sudah dalam.
Setiap momen tidak pernah hilang begitu saja. Di Roma, peristiwa derby tidak berlalu—ia tumbuh menjadi ingatan kolektif.
Dan hingga hari ini, Derby della Capitale tetap menjadi tolok ukur musim bagi kedua klub.
Menang berarti ketenangan.
Kalah berarti tekanan satu kota.
Derby ini bukan hanya soal perebutan tiga poin, melainkan perebutan hak simbolis: siapa yang berkuasa di kota abadi. Selama Curva Sud dan Curva Nord berdiri berseberangan, satu hal tidak akan berubah Roma adalah kota dua warna, dan keduanya tidak akan pernah sepenuhnya berdamai.


