Sindir “Satu Tenda” Kemensos Lalu Minta Maaf, Kasus Axel Christian Jadi Sinyal Neo Orba?
Permintaan maaf influencer Axel Christian (@acjoo) usai menyindir Kementerian Sosial (Kemensos) justru memantik kecurigaan yang lebih besar dari sekadar polemik media sosial.
Table Of Content
Di tengah kondisi darurat dan solidaritas warga yang bekerja lebih cepat dari negara, kritik berbentuk satire malah berujung klarifikasi.
Apakah ruang kritik terhadap pemerintah masih aman, atau kita sedang menyaksikan versi baru Orde Baru?
“Satu Tenda” Kemensos yang (mungkin) Tersangkut di DC Cakung
Dalam video yang viral, Axel Christian melontarkan sindiran tajam terhadap bantuan Kemensos di wilayah terdampak bencana. Ia membandingkan kehadiran negara dengan inisiatif warga yang lebih dulu bergerak membangun posko dan rumah darurat.
“Terima kasih pak kemensos yang sudah memberikan bantuan ke Babo dengan signifikan dan dahsyat karena bapak kerja di pemerintahan,” dengan jeda sejenak sebelum menekan, “SATU TENDA!” ujar Axel Christian, dalam reels instagramnya @acjoo.
Sindiran itu tidak berhenti di sana. Ia menekankan ironi antara klaim kinerja pemerintah dan realitas di lapangan.
“Tidak apa-apa, walaupun di sini warga udah bangun rumah, bangun posko yang banyak, warga bantu warga,” ujar Axel.
Bagian paling menyentil datang ketika ia menyoroti simbolisme bantuan negara.
“(dan) bapak mendirikan……. SATU TENDA!” Katanya.
“Tidak apa-apa! Semua dimulai dari satu persen setiap harinya,” lanjut Axel.
Klarifikasi
Video tersebut dengan cepat menyebar luas. Namun alih-alih dijawab dengan evaluasi kebijakan atau klarifikasi institusional yang terbuka, kritik itu justru diakhiri dengan permintaan maaf dari sang pembuat konten.
“Izin teman-teman, kita bantu viralkan karena pemerintah ingin viral. Komen: ‘bagus, kemensos! bagus!’ izin,” ujar Axel.
Di titik inilah persoalan berubah arah. Permintaan maaf itu memunculkan tafsir bahwa kritik publik—bahkan yang berbasis fakta lapangan—tidak lagi berdiri setara dengan kekuasaan.
Ketika seorang warga harus menarik ucapannya setelah menyindir lembaga negara, siapa sebenarnya yang sedang dilindungi?
Ketika Kritik Dianggap Gangguan
Istilah “Neo Orba” kembali bergema bukan karena nostalgia, melainkan karena pola yang terasa familiar.
Bukan pembredelan terang-terangan, melainkan tekanan implisit. Bukan larangan bicara, tetapi penciptaan rasa takut untuk bicara.
Dalam demokrasi sehat, satire adalah alarm. Ia keras karena realitasnya keras. Ketika warga sudah lebih dulu “warga bantu warga,” sementara negara hadir dengan simbol minimal, kritik seharusnya diperlakukan sebagai masukan, bukan ancaman reputasi.
Tidak hanya Axel Christian, sebenarnya kita sudah melihat banyak sipil yang ditangkap dan menjadi “tahanan politik” karena penguasa kita tidak suka dikritik.
Dan masalahnya di sini bukan pada satu tenda, melainkan pada satu suara yang dipaksa melunak. Jika kritik harus diakhiri dengan permintaan maaf, maka yang sedang dibangun bukan kepercayaan publik, melainkan kepatuhan
Sejarah sudah berkali-kali membuktikan, negara yang alergi kritik hanya sedang menyiapkan kegagalannya yang mematikan.


