Teror Bangkai hingga Bom Molotov ke Aktivis dan Influencer, Negara Dinilai Gagal Melindungi Warga Kritis
Gelombang teror yang menimpa sejumlah aktivis dan influencer sepanjang Desember 2025 kembali memantik pertanyaan serius soal kemampuan negara melindungi warganya.
Table Of Content
Teror yang dialami DJ Donny, Sherly Annavita, hingga aktivis Greenpeace Iqbal Damanik bukan sekadar serangan personal, tetapi telah masuk kategori intimidasi sistematis terhadap suara kritis publik.
Teror-teror ini terjadi berdekatan, dengan pola ancaman serupa: meminta korban berhenti bersuara terkait bencana banjir dan longsor di Sumatra yang menewaskan lebih dari seribu orang.
Namun hingga kini, respons negara masih minim dan terkesan reaktif.
Pola Teror yang Semakin Brutal
Bentuk teror yang dialami para korban tidak lagi berhenti di ranah digital. Kiriman bangkai hewan, ancaman pembunuhan, perusakan mobil, hingga pelemparan bom molotov menunjukkan eskalasi yang membahayakan keselamatan.
Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, menerima kiriman bangkai ayam dengan pesan ancaman langsung ke keluarganya.
Bangkai itu ditemukan di teras rumahnya, dengan pesan intimidatif yang jelas menyasar aktivitas advokasinya.
“Sulit untuk tak mengaitkan kiriman bangkai ini dengan upaya pembungkaman terhadap orang-orang yang gencar menyampaikan kritis atas situasi Indonesia saat ini,” kata Leonard Simanjuntak, Kepala Greenpeace Indonesia.
Menurut Leonard, kritik yang disampaikan Greenpeace berangkat dari data lapangan dan analisis akademik, bukan provokasi.
Namun justru itulah yang tampaknya membuat pihak tertentu merasa terancam.
Bom Molotov dan Ancaman Nyata
Ancaman lebih serius dialami DJ Donny. Setelah menerima paket berisi bangkai ayam dengan kepala terpenggal, rumahnya dilempari bom molotov oleh dua orang tak dikenal.
Aksi tersebut terekam CCTV dan nyaris memicu kebakaran.
“JAGA MULUTMU! TERUTAMA DI MEDSOS. JANGAN PECAH BELAH BANGSA ATAU KAMU AKAN JADI SEPERTI AYAM INI!!!” tulis pesan ancaman dalam paket tersebut.
Dony telah melaporkan kejadian ini ke Polda Metro Jaya. Namun publik menunggu lebih dari sekadar penerimaan laporan: penangkapan pelaku dan jaminan keamanan.
Negara Absen Lagi
Maraknya teror terhadap warga yang bersuara kritis memunculkan kesan bahwa negara absen. Aparat seolah hanya muncul setelah ancaman viral, bukan sebagai pelindung hak konstitusional warga.
Dalam konteks demokrasi, kritik terhadap penanganan bencana seharusnya dijawab dengan evaluasi kebijakan, bukan pembungkaman lewat teror.
Ketika intimidasi dibiarkan berulang tanpa konsekuensi hukum yang jelas, yang dipertaruhkan bukan hanya keselamatan individu, tapi masa depan kebebasan berpendapat itu sendiri.
Dan jika negara terus memilih diam, maka pesan yang tersampaikan ke publik menjadi sangat berbahaya: bersuara boleh, asal siap diteror sendiri.


