Virdian Aurellio Alami Teror Digital: Peretasan hingga Paket COD Fiktif
Selain teror fisik, gelombang intimidasi terhadap aktivis dan influencer juga menjelma dalam bentuk teror digital.
Metode ini dinilai lebih senyap, namun berdampak luas secara psikologis dan sosial, terutama ketika menyasar keluarga dan lingkar terdekat korban.
Beberapa kasus menunjukkan pola serupa: peretasan nomor pribadi, penyalahgunaan identitas, hingga pemesanan barang COD fiktif secara masif.
Kasus Yama Carlos: Intimidasi via Dunia Maya
Kasus ini pernah dialami oleh aktor dan model Yama Carlos yang juga menjadi salah satu korban teror digital.
Ia mengungkapkan bahwa nomor telepon ibu dari temannya diretas oleh pihak tak dikenal. Peretas meminta Yama menghapus video parodi yang ia unggah sebagai syarat pemulihan nomor tersebut.
Setelah video diturunkan, nomor tersebut memang dikembalikan. Namun teror tidak berhenti di situ.
Yama dan keluarganya kemudian menerima banyak pesan dari kurir dan toko daring terkait pesanan COD yang tidak pernah mereka lakukan.
Teror semacam ini bukan hanya mengganggu, tetapi berpotensi menimbulkan konflik sosial dengan pihak ketiga yang sama sekali tidak terlibat.
Virdian Aurellio dan Serangan ke Keluarga
Influencer Virdian Aurellio juga mengalami peretasan.
Akun WhatsApp adiknya diambil alih dan digunakan untuk menyebarkan konten pornografi ke berbagai grup.
Upaya peretasan juga menyasar anggota keluarga lainnya, meski tidak semuanya berhasil.
Selain itu, rekan-rekan Virdian menerima pesan fitnah dan ujaran kebencian yang mencemarkan namanya.
Serangan ini menunjukkan bahwa teror digital tidak lagi menargetkan individu semata, melainkan jaringan sosial korban.
Teror digital kerap diremehkan karena tidak meninggalkan luka fisik. Namun dampak tekanan mental, rasa tidak aman, rusaknya relasi sosial, hingga ancaman hukum yang bisa berbalik ke korban sering diabai.
Sayangnya, respons aparat terhadap teror digital masih kerap lambat dan administratif. Pelaku sering berlindung di balik anonimitas, sementara korban diminta bersabar.
Jika negara tidak serius menangani teror digital, maka ruang berekspresi akan terus dikecilkan secara sistematis.
Diam-diam, senyap, dan efektif. Dan ketika teror semacam ini dibiarkan, negara sejatinya ikut membiarkan warganya dibungkam tanpa perlu satu pun peluru ditembakkan.


