Tradisi ‘Warisan Istri’ dan Perbudakan Adat: Ketika Budaya Sumba dan Toraja Menguji Batasan Moral Modern
JadiGini.com – Di era globalisasi yang serba cepat ini, nilai-nilai universal seperti hak asasi manusia dan kesetaraan gender semakin menguat. Namun, di sudut-sudut Nusantara yang kaya akan budaya, kita masih menemukan praktik-praktik adat yang membuat kita bertanya: di mana batasan antara pelestarian budaya dan pelanggaran hak asasi? Mari kita menyelami dua tradisi yang menggugah rasa ingin tahu dan perdebatan, berasal dari Sumba dan Toraja.
Table Of Content
Warisan Budaya yang Bertahan
Sumba, dengan lanskap savananya yang memukau, menyimpan tradisi yang unik dalam sistem kekerabatannya. Salah satunya adalah praktik “warisan istri.” Bayangkan, seorang istri yang ditinggal mati suaminya, alih-alih bebas menentukan jalan hidupnya, justru “diwariskan” kepada saudara laki-laki dari mendiang suaminya. Pernikahan kembali pun terjadi, dengan tujuan menjaga kelangsungan garis keturunan dan tanggung jawab keluarga. Bagi masyarakat modern, praktik ini mungkin terasa asing dan bahkan meresahkan, namun bagi masyarakat Sumba, ini adalah bagian dari tatanan sosial yang telah diwariskan turun-temurun.
Hamba: Mengabdi Dalam Ikatan Adat
Tradisi lain yang tak kalah kontroversial di Sumba adalah “perbudakan adat” atau “hamba.” Dalam sistem ini, seseorang dibeli dengan mahar (biasanya kerbau) dan mengabdi kepada majikannya. Uniknya, tidak ada gaji bulanan seperti dalam hubungan kerja modern. Ikatan ini bersifat turun-temurun, artinya anak seorang hamba juga akan menjadi hamba bagi keturunan majikannya. Meski terdengar kejam, masyarakat setempat mengklaim bahwa sistem ini didasari kesepakatan adat dan penghormatan yang tinggi terhadap tradisi. Para hamba diyakini jarang melarikan diri karena kuatnya ikatan adat dan penerimaan terhadap sistem tersebut.
Toraja: Kematian Bukanlah Akhir
Beralih ke Toraja, kita menemukan tradisi yang unik dalam memperlakukan kematian. Masyarakat Toraja tidak langsung menganggap seseorang yang meninggal dunia sebagai “wafat,” melainkan masih “tidur.” Sebelum upacara pemakaman yang megah (Rambu Solo), jenazah akan dirawat dan diperlakukan layaknya orang sakit. Keluarga akan terus berbicara, memberi makan, dan bahkan mengajak “orang yang tidur” ini beraktivitas sehari-hari. Rambu Solo sendiri merupakan upacara pemakaman yang kompleks dan mahal, seringkali melibatkan penyembelihan puluhan hingga ratusan hewan kurban. Bagi masyarakat Toraja, upacara ini adalah bentuk penghormatan terakhir kepada mendiang dan mengantarkannya menuju alam baka.
Adaptasi atau Konservasi?
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, bagaimana kita menyikapi tradisi-tradisi ini di era modern? Apakah kita harus membiarkannya tetap lestari demi menjaga warisan budaya, ataukah kita perlu melakukan penyesuaian agar selaras dengan nilai-nilai universal? Tidak ada jawaban tunggal untuk pertanyaan ini. Yang jelas, dialog terbuka dan pemahaman yang mendalam tentang konteks budaya adalah kunci untuk menemukan solusi yang bijaksana.


