Perang Ekonomi Baru: Washington Ancam Pemasok Minyak Kuba, Siapa yang Menanggung Dampaknya?
Jadigini.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menandatangani perintah eksekutif yang akan memberlakukan tarif baru terhadap negara mana pun yang memasok minyak ke Kuba. Langkah ini merupakan bagian terbaru dari kampanye tekanan Washington terhadap Havana yang semakin intens. Keputusan kontroversial ini, yang ditandatangani Trump pada hari Kamis, secara gamblang menyebut pemerintah Kuba sebagai “ancaman yang tidak biasa dan luar biasa” terhadap keamanan nasional AS, membuka babak baru dalam ketegangan geopolitik yang telah berlangsung lama.
Table Of Content
Ancaman Tarif Baru Washington
Pemerintahan Trump tidak main-main. Perintah eksekutif tersebut menegaskan bahwa sistem tarif baru ini memungkinkan bea ad valorem tambahan untuk dikenakan pada impor barang yang merupakan produk negara asing yang secara langsung atau tidak langsung menjual atau menyediakan minyak ke Kuba. Ini berarti setiap negara, dari tetangga terdekat hingga mitra dagang jauh, yang berani menjual minyak kepada Kuba, berpotensi menghadapi sanksi ekonomi dari Amerika Serikat. Dalam perintahnya, Trump menuduh rezim Kuba bersekutu dengan dan mendukung “sejumlah negara musuh, kelompok teroris transnasional, dan aktor jahat yang bertentangan dengan Amerika Serikat,” termasuk Rusia, Tiongkok, Iran, Hamas, dan Hezbollah. Pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa Washington melihat isu pasokan minyak Kuba tidak hanya sebagai masalah ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari konfrontasi strategis yang lebih luas.
Dibalik Kampanye Tekanan AS
Ancaman Trump terhadap Kuba datang setelah serangkaian tindakan agresif AS di kawasan, termasuk insiden penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya dalam serangan militer malam hari di ibu kota Caracas awal bulan ini. Sejak insiden tersebut, Amerika Serikat secara efektif telah mengambil kendali sektor minyak Venezuela, dan Trump secara terbuka berjanji untuk menghentikan pengiriman minyak yang sebelumnya ditujukan ke Kuba. “Kuba akan segera gagal,” kata Trump baru-baru ini, merujuk pada minimnya minyak dan pendapatan dari Venezuela yang tiba di Havana. Ini memperjelas bahwa tindakan AS dirancang untuk melemahkan ekonomi Kuba, dengan memotong sumber energi vitalnya. Tujuan Washington sepertinya adalah untuk memaksa kepemimpinan Kuba untuk “membuat kesepakatan, sebelum terlambat,” meskipun sifat kesepakatan atau konsekuensinya tidak pernah dijelaskan secara spesifik.
Reaksi Keras dari Havana dan Sikap Meksiko
Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez, dengan cepat mengecam perintah Trump tersebut, menyebutnya sebagai “tindakan agresi brutal” yang didukung oleh “daftar panjang kebohongan yang dimaksudkan untuk menggambarkan Kuba sebagai ancaman” bagi AS. Melalui media sosial, Rodriguez menyatakan, “Kami mengecam di hadapan dunia tindakan agresi brutal terhadap Kuba dan rakyatnya ini, yang selama lebih dari 65 tahun telah menjadi subjek blokade ekonomi terpanjang dan paling kejam yang pernah diberlakukan pada seluruh bangsa.” Ia bahkan menegaskan bahwa satu-satunya ancaman terhadap perdamaian, keamanan, dan stabilitas kawasan – dan satu-satunya pengaruh jahat – adalah yang dilakukan oleh Amerika Serikat.
Sementara itu, tekanan AS juga dirasakan oleh Meksiko. Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, minggu ini menyatakan bahwa pemerintahannya setidaknya untuk sementara waktu telah menghentikan pengiriman minyak ke Kuba. Namun, ia bersikeras bahwa keputusan tersebut adalah “keputusan berdaulat” dan tidak dibuat di bawah tekanan dari Washington. Pernyataan Sheinbaum ini menunjukkan kompleksitas hubungan internasional di tengah tekanan AS.
Masa Depan Pasokan Energi Kuba
Meksiko, bersama dengan Venezuela, sebelumnya merupakan pemasok mayoritas kebutuhan minyak Kuba. Namun, pasokan minyak mentah Venezuela telah terputus sejak dugaan penculikan mantan Presiden Maduro pada 3 Januari. Menurut The Financial Times, Meksiko memasok sekitar 44 persen impor minyak Kuba, dan Venezuela menyumbang 33 persen hingga bulan lalu. Sekitar 10 persen juga bersumber dari Rusia dan sejumlah kecil dari Aljazair. Dengan ancaman tarif AS yang menggantung, masa depan pasokan energi Kuba kini menjadi sangat tidak pasti. Negara-negara pemasok, terutama Meksiko, mungkin harus menimbang dengan hati-hati antara mempertahankan hubungan dagang dengan Kuba dan menghindari sanksi ekonomi AS yang berpotensi merugikan. Ini adalah tantangan besar bagi Kuba dan menguji ketahanan strategis negara-negara yang berani menentang kebijakan Washington.


