Ketika Suara Gaza Dibungkam, Lalu Bangkit Kembali: Kisah Bisan Owda dan TikTok
Jadigini.com – Kisah jurnalis Palestina Bisan Owda kembali menjadi sorotan dunia, bukan hanya karena laporan berani dari Gaza, tetapi juga karena perjuangannya memulihkan akun TikTok yang sempat diblokir, menyulut debat tentang kebebasan berekspresi di era digital. Setelah menjadi korban dugaan sensor, suara Owda kini kembali diperdengarkan, menunjukkan kekuatan desakan publik dan sorotan media internasional.
Table Of Content
Suara dari Gaza yang Tak Bisa Dibungkam
Bisan Owda adalah nama yang telah dikenal luas di kancah jurnalisme internasional. Ia mendapatkan pengakuan global berkat video hariannya yang mendalam dan memilukan dari wilayah Palestina yang dilanda perang. Pesannya yang ikonik, “It’s Bisan from Gaza – and I’m still alive” selama perang genosida Israel di Gaza, telah menyentuh jutaan hati. Keberanian dan dedikasinya dalam melaporkan realitas di lapangan tidak hanya menjadikannya kontributor untuk AJ+ Al Jazeera, tetapi juga meraih berbagai penghargaan jurnalistik bergengsi, termasuk Emmy, Peabody, dan Edward R Murrow.
Akun TikTok-nya berhasil mengumpulkan 1,4 juta pengikut, menjadikannya platform vital untuk berbagi cerita langsung dari Gaza. Namun, meskipun popularitasnya tinggi, postingan baru dari jurnalis yang berbasis di Gaza ini belum terlihat sejak September 2023. Perjalanannya untuk mendapatkan kembali akunnya menjadi simbol perjuangan yang lebih besar bagi kebebasan pers dan suara yang terpinggirkan.
Di Balik Pemblokiran Akun TikTok
Pada hari Rabu, Owda sempat memberi tahu para pengikutnya bahwa akun TikTok-nya telah dihapus. Insiden ini terjadi di tengah pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang, menurut Owda, sempat mengungkapkan harapannya agar pembelian TikTok “berjalan lancar, karena hal itu bisa menjadi konsekuensial.” Komentar ini menambah spekulasi tentang motif di balik pemblokiran akun, meskipun TikTok sendiri menawarkan penjelasan yang berbeda.
Pihak TikTok awalnya menyatakan kepada media The New Arab bahwa akun Owda “dibatasi sementara” pada bulan September karena adanya kekhawatiran tentang potensi risiko peniruan identitas. Namun, setelah tinjauan lebih lanjut, akun jurnalis tersebut akhirnya dipulihkan dan kini beroperasi secara normal. Meskipun demikian, Owda mengungkapkan bahwa banyak postingan videonya sekarang “tidak memenuhi syarat untuk rekomendasi,” yang berarti jangkauannya mungkin akan dibatasi secara algoritma.
Ancaman Terhadap Jurnalis di Gaza dan Kebebasan Pers
Kasus Bisan Owda tidak bisa dilepaskan dari konteks yang lebih luas mengenai ancaman terhadap jurnalis di Gaza. Komite untuk Melindungi Jurnalis (CPJ) melaporkan bahwa setidaknya 207 jurnalis dan pekerja media Palestina telah terbunuh di Gaza sejak Oktober 2023, dengan “sebagian besar” dibunuh oleh pasukan Israel. Angka ini menyoroti risiko ekstrem yang dihadapi para pelapor di lapangan.
Selain itu, penghapusan akun Owda terjadi saat pengadilan tertinggi Israel menunda lagi keputusannya mengenai apakah jurnalis asing harus diizinkan masuk dan meliput Gaza secara independen dari militer Israel. Kondisi ini memperparah kesulitan dalam mendapatkan laporan yang objektif dan tidak bias dari zona konflik, menjadikan suara jurnalis lokal seperti Owda semakin penting.
Kekuatan Suara Publik dan Masa Depan TikTok
Owda sendiri percaya bahwa perhatian media internasional dan tekanan dari organisasi non-pemerintah berperan besar dalam pemulihan akun TikTok-nya. Ini menunjukkan kekuatan kolektif suara publik dan organisasi advokasi dalam menantang keputusan platform media sosial. Kasus ini juga menyoroti kompleksitas lanskap media digital, di mana platform seperti TikTok seringkali berada di bawah pengawasan ketat dan tekanan politik.
TikTok sendiri baru-baru ini mengumumkan penyelesaian kesepakatan untuk mendirikan versi terpisah dari platform di Amerika Serikat, yang akan dikendalikan oleh perusahaan investasi, termasuk beberapa yang terkait dengan mantan Presiden Donald Trump. Perubahan struktur kepemilikan dan operasional ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana keputusan moderasi konten dan kebebasan berekspresi akan dipengaruhi di masa depan, terutama bagi jurnalis yang meliput isu-isu sensitif. Kisah Bisan Owda mengingatkan kita bahwa perjuangan untuk kebebasan informasi adalah perjuangan yang terus-menerus, baik di medan perang maupun di dunia maya.


