Sejarah Liverpool FC: Dari Konflik dengan Everton hingga Menjadi Raksasa DuniaAwal Mula Berdirinya Liverpool FC
Liverpool Football Club (Liverpool FC) merupakan salah satu tim sepak bola tersukses di dunia dan memiliki basis penggemar terbesar di berbagai belahan bumi. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa sejarah berdirinya Liverpool FC berawal dari sebuah konflik internal dengan klub tetangga mereka, Everton FC.
Table Of Content
Cikal bakal klub ini dimulai pada akhir abad ke-19. Sosok penting di balik lahirnya Liverpool FC adalah John Houlding, seorang pengusaha kaya asal kota Liverpool yang memiliki berbagai bisnis besar, termasuk penyulingan bir dan kepemilikan tanah di kawasan Anfield. Pada masa itu, Everton FC menggunakan Stadion Anfield sebagai markas mereka, yang merupakan lahan milik Houlding.
Konflik John Houlding dan Everton FC

Hubungan baik antara John Houlding dan Everton FC semula berjalan harmonis. Namun, permasalahan mulai muncul ketika Houlding mulai menuntut biaya sewa yang tinggi untuk penggunaan stadion Anfield. Dewan direksi Everton tidak menyetujui kenaikan biaya tersebut, hingga akhirnya terjadi pertengkaran besar antara kedua pihak.
Puncak dari konflik ini terjadi pada tahun 1892, ketika Everton memutuskan untuk meninggalkan Anfield dan membangun stadion baru di Goodison Park. Kepergian Everton membuat stadion Anfield kosong tanpa penghuni. Hal ini tentu menjadi masalah besar bagi Houlding yang sudah mengeluarkan banyak investasi untuk stadion tersebut.
Untuk menyelamatkan investasinya, John Houlding akhirnya mengambil langkah berani: mendirikan klub baru bernama Liverpool Football Club pada tahun 1892 — tahun yang sama dengan berdirinya klub-klub besar lain seperti Real Madrid dan Barcelona. Sejak saat itu, lahirlah tim yang kini dikenal sebagai The Reds, simbol kebanggaan kota Liverpool.
Perjalanan Awal Liverpool FC
Sejak berdiri, Liverpool FC langsung menunjukkan potensi besar. Dalam waktu kurang dari satu dekade, mereka sukses meraih gelar liga pertamanya. Pada musim 1900–1901, Liverpool memenangkan Football League First Division, pencapaian luar biasa untuk klub yang baru berusia sembilan tahun.
Keberhasilan tersebut membuat nama Liverpool semakin dikenal di Inggris. Mereka kembali menegaskan dominasinya dengan memenangkan gelar liga kedua pada tahun 1906. Popularitas klub pun melonjak, dan Anfield mulai menjadi markas yang ditakuti lawan.
Namun, masa kejayaan itu sempat terhenti akibat pecahnya Perang Dunia I (1914–1918). Kompetisi sepak bola di Inggris dihentikan, dan banyak pemain Liverpool yang harus ikut berperang. Bahkan, beberapa di antaranya tidak pernah kembali.
Kebangkitan Setelah Perang Dunia I
Setelah perang usai, Liverpool berhasil bangkit. Mereka tampil luar biasa di awal dekade 1920-an dengan memenangkan gelar liga dua musim berturut-turut, yaitu pada 1921–1922 dan 1922–1923.
Sayangnya, setelah masa gemilang itu, performa mereka menurun dan klub mengalami periode panjang tanpa gelar besar. Ketidakstabilan manajemen dan perubahan pemain menjadi faktor utama yang membuat Liverpool kesulitan mempertahankan konsistensi.
Dampak Perang Dunia Kedua
Ketika Perang Dunia II pecah pada tahun 1939, kota Liverpool menjadi salah satu target utama serangan udara Jerman. Infrastruktur hancur, termasuk area sekitar Anfield. Banyak pemain Liverpool yang ikut menjadi tentara dan gugur dalam perang.
Masa itu menjadi salah satu periode tergelap dalam sejarah Liverpool FC. Sepak bola berhenti total, dan klub harus berjuang keras untuk kembali berdiri setelah perang berakhir.
Era Keemasan di Bawah Bill Shankly dan Bob Paisley

Kebangkitan sejati Liverpool FC dimulai pada era Bill Shankly. Ditunjuk sebagai manajer pada tahun 1959, Shankly membawa revolusi besar dalam tubuh klub. Ia memperkenalkan sistem latihan modern, memperkuat semangat tim, dan menanamkan filosofi “You’ll Never Walk Alone” sebagai jiwa dari Liverpool.
Di bawah kepemimpinan Shankly, Liverpool berhasil naik ke divisi utama dan meraih sejumlah trofi penting. Setelah Shankly pensiun, tongkat estafet dilanjutkan oleh asistennya, Bob Paisley, yang membawa Liverpool ke masa kejayaan luar biasa pada dekade 1970–1980-an.
Paisley mempersembahkan berbagai gelar bergengsi, termasuk tiga trofi European Cup (Liga Champions), enam gelar liga domestik, dan beberapa trofi piala lainnya. Era inilah yang menegaskan Liverpool sebagai salah satu klub sepak bola terbaik di dunia.
Filosofi dan Identitas Liverpool
Lebih dari sekadar klub, Liverpool FC telah menjelma menjadi simbol kebanggaan dan semangat masyarakat kota Liverpool. Lagu kebanggaan mereka, You’ll Never Walk Alone, menjadi representasi dari nilai-nilai solidaritas, kebersamaan, dan keteguhan hati.
Dari masa ke masa, filosofi ini terus dijaga oleh setiap pelatih dan pemain yang mengenakan seragam merah kebanggaan. Dari Bill Shankly hingga Jurgen Klopp, semua memahami bahwa bermain untuk Liverpool bukan sekadar tentang menang, tetapi tentang mewarisi sejarah dan semangat perjuangan.
Liverpool di Era Modern

Memasuki abad ke-21, Liverpool terus mempertahankan statusnya sebagai klub papan atas. Setelah sempat mengalami masa sulit di era 1990-an dan awal 2000-an, Liverpool kembali berjaya di bawah kepemimpinan Jurgen Klopp.
Pada musim 2018–2019, mereka menjuarai Liga Champions UEFA setelah mengalahkan Tottenham Hotspur di final. Tak lama kemudian, musim 2019–2020, Liverpool berhasil mengakhiri penantian panjang selama 30 tahun dengan menjuarai Premier League.
Kesuksesan ini menunjukkan bahwa semangat dan warisan yang dibangun sejak 1892 masih hidup hingga kini.
Dari Konflik Menjadi Legenda Dunia
Sejarah Liverpool FC adalah kisah tentang konflik yang melahirkan kejayaan. Dari perselisihan antara John Houlding dan Everton FC, lahirlah klub yang kini menjadi salah satu ikon sepak bola dunia.
Selama lebih dari satu abad, Liverpool telah menorehkan sejarah panjang — dari masa perang, era keemasan Shankly dan Paisley, hingga kebangkitan modern di bawah Klopp.
Semua kisah ini menunjukkan satu hal: Liverpool FC bukan hanya klub sepak bola, melainkan simbol perjuangan dan semangat pantang menyerah.


