Sejarah North London Derby: Asal Usul Dendam 100 Tahun Arsenal vs Tottenham Hotspur
North London Derby bukan sekadar pertandingan sepak bola. Ini adalah pertemuan dua identitas, dua komunitas, dan dua sejarah panjang yang selama lebih dari satu abad saling bertabrakan. Setiap kali Arsenal dan Tottenham Hotspur saling berhadapan, tensinya selalu meledak terlepas dari posisi klasemen, kondisi tim, atau siapa yang sedang berada dalam performa terbaik.
Table Of Content
- Asal Mula: Arsenal Datang ke “Wilayah Orang” (1913)
- Semua Orang Protes… Tapi Arsenal Tetap Masuk (1913)
- 1919 — Skandal Politik Paling Kontroversial dalam Sejarah Liga Inggris
- Dari Sini, Kebencian Resmi Mengakar
- Pertemuan Awal & Sejarah Derby
- Momen-Momen Penting yang Bikin Rivalitas Makin Edan
- 1. Semifinal FA Cup 1991 — Salah Satu Derby Terbesar Sepanjang Masa
- 2. 2001 — Transfer Sol Campbell: Pengkhianatan Seumur Hidup
- 3. 2014 — Theo Walcott Memberi Isyarat “2-0” dari Atas Tandu
Banyak orang mengenal derby ini sebagai salah satu laga paling panas di Inggris, namun tidak semua memahami akar dari permusuhan tersebut. Rivalitas Arsenal–Spurs bukan hanya soal persaingan kota atau kebanggaan wilayah. Ia lahir dari perpindahan klub, keputusan politik yang kontroversial, rasa dikhianati, hingga insiden-insiden ikonik yang menambah bara di setiap generasi.
Untuk memahami mengapa North London Derby begitu intens, kita harus kembali ke awal mula konflik ke masa ketika Arsenal belum menjadi bagian dari London Utara. Dari sana, cerita besar ini mulai ditulis, dan hingga hari ini, derbynya terus hidup dalam ingatan para penggemarnya.
Asal Mula: Arsenal Datang ke “Wilayah Orang” (1913)

Sebelum menjadi penghuni London Utara seperti yang kita kenal hari ini, Arsenal sebenarnya bukan berasal dari wilayah tersebut. Klub ini lahir di Woolwich, kawasan industri di London Selatan yang dikelilingi pabrik amunisi. Lokasinya terpencil, akses sulit, dan penontonnya sedikit. Kondisi keuangan pun terus merosot hingga klub berada di ambang kebangkrutan.
Di sinilah sosok Henry Norris muncul. Ia adalah pemilik ambisius dengan pemikiran besar dan tak sedikit yang menyebutnya licik. Norris melihat kenyataan pahit: jika Arsenal bertahan di Woolwich, klub itu tidak akan pernah berkembang. Ia mencari jalan keluar yang berani, yakni memindahkan klub ke wilayah baru yang lebih ramai dan punya potensi besar.
Keputusannya jatuh pada Highbury, sebuah kawasan yang hanya berjarak sekitar empat mil dari markas Tottenham Hotspur di White Hart Lane. Bagi Spurs dan masyarakat setempat, langkah ini terasa seperti pelanggaran teritori. Tottenham telah menjadi klub asli London Utara sejak era mereka bermain di Tottenham Marshes, kemudian Northumberland Park, hingga akhirnya menetap di White Hart Lane pada 1899.
Kedatangan Arsenal pada 1913 dianggap sebagai tindakan “masuk halaman belakang orang lain”. Tak butuh waktu lama untuk membuat bibit permusuhan tumbuh. Bagi Tottenham, mereka adalah tuan rumah. Arsenal hanyalah pendatang yang tiba-tiba muncul tanpa permisi.
Dan dari sinilah, bara pertama North London Derby mulai menyala.
Semua Orang Protes… Tapi Arsenal Tetap Masuk (1913)

Keputusan Arsenal pindah ke Highbury tidak diterima begitu saja. Begitu rencana pembangunan stadion baru diumumkan, gelombang penolakan langsung bermunculan dari berbagai pihak.
Tottenham Hotspur menjadi suara paling keras. Mereka merasa wilayahnya diinjak dan keberadaan Arsenal akan mengganggu posisi mereka sebagai klub utama di London Utara. Namun bukan hanya Spurs yang menolak.
Clapton Orient (kini Leyton Orient) ikut protes, begitu pula Chelsea, yang menilai langkah Arsenal akan merusak peta sepak bola London. Warga lokal di Highbury pun marah karena tiba-tiba ada klub besar yang ingin membangun stadion besar di lingkungan mereka.
Singkatnya, semua pihak menilai Arsenal “melanggar batas” dan masuk ke teritori yang bukan miliknya.
Namun semua penolakan itu tidak berarti banyak. Melalui proses yang penuh tekanan dan kontroversi, izin pembangunan tetap dikeluarkan. Highbury resmi berdiri dan dibuka pada tahun 1913. Meski kedatangannya tidak disambut baik, Arsenal tetap maju dan menetap.
Sejak saat itu, dua klub yang sebelumnya berjauhan kini menjadi tetangga dekat dan kedekatan inilah yang membuat rivalitas semakin kuat. Setiap pertandingan menjadi penuh emosi, setiap pertemuan sarat simbol, dan setiap derby terasa seperti mempertahankan harga diri wilayah.
Highbury bukan sekadar rumah baru. Ia menjadi pemicu permanen dari konflik yang terus hidup lebih dari seratus tahun.
1919 — Skandal Politik Paling Kontroversial dalam Sejarah Liga Inggris
Perang Dunia I berakhir, kompetisi sepak bola Inggris harus dibentuk ulang. Di sinilah salah satu momen paling penting dalam sejarah North London Derby terjadi sebuah keputusan yang hingga hari ini masih dianggap sebagai “dosa besar” Arsenal oleh pendukung Tottenham.
Secara aturan, musim 1914/15 menyisakan satu hal pasti: Tottenham berada di posisi terbawah Divisi 1 dan seharusnya terdegradasi. Sementara itu, Arsenal hanya finish peringkat 6 Divisi 2, sehingga mereka seharusnya tetap berada di kasta kedua.
Normalnya, promosi diberikan kepada Derby County (juara Divisi 2) dan Preston North End (runner-up). Tottenham turun, Arsenal bertahan. Semua tampak logis.
Namun hal tidak berjalan seperti seharusnya.
Ketika Football League memutuskan untuk menambah jumlah peserta Divisi 1 dari 20 menjadi 22 tim, sebuah celah terbuka. Slot pertama diberikan kepada Chelsea, yang lolos dari degradasi akibat skandal match-fixing yang melibatkan Liverpool dan Manchester United kasus yang benar-benar terbukti.
Slot kedua seharusnya menjadi persaingan yang lebih sederhana. Tapi yang terjadi justru mencengangkan.
Football League mendadak memutuskan pemilihan berdasarkan voting. Kandidatnya banyak, termasuk Spurs dan Arsenal. Lalu muncullah momen yang dianggap Spurs sebagai permainan politik.
John McKenna, Presiden Football League yang dikenal dekat dengan Henry Norris tiba-tiba berdiri dan memberi pidato mendukung Arsenal. Ia beralasan bahwa Arsenal “layak mendapat tempat di Divisi 1 karena kontribusi historis mereka.”
Padahal, jika bicara soal sejarah, klub seperti Birmingham dan Wolves memiliki rekam jejak lebih panjang. Voting berlangsung. Hasil akhirnya mengguncang:
- Arsenal: 18 suara
- Tottenham: 8 suara
Keputusan resmi: Arsenal promosi ke Divisi 1. Tottenham terdegradasi.
Bagi fans Spurs, inilah titik lahirnya kebencian abadi. Mereka percaya bahwa Arsenal “membeli” posisinya di Divisi 1 melalui politik, bukan prestasi. Meski tak pernah ada bukti resmi, narasi tersebut tetap hidup hingga saat ini.
Setiap kali Spurs kalah, ada saja fans yang mengingatkan: “Arsenal nggak pernah degradasi? Ya wajar… naiknya aja bukan lewat prestasi.”
Skandal 1919 menjadi noda paling kontroversial dalam sejarah liga—dan bahan bakar utama rivalitas dua klub besar London Utara.
Baca juga: MOD Bahasa Indonesia FM26 Terbaru
Dari Sini, Kebencian Resmi Mengakar

Keputusan Football League pada tahun 1919 tidak hanya mengubah komposisi Divisi 1 keputusan itu membentuk fondasi kebencian yang bertahan lebih dari satu abad. Sejak saat itu, hubungan Arsenal dan Tottenham tidak pernah sama.
Bagi Tottenham, Arsenal bukan hanya klub pendatang yang masuk wilayah mereka. Mereka kini dianggap sebagai klub yang naik kasta melalui cara yang “tidak murni.” Narasi bahwa Arsenal memanfaatkan koneksi politik terus menjadi bahan bakar emosi para pendukung Spurs dari generasi ke generasi.
Di sisi lain, Arsenal melihatnya sebagai langkah strategis untuk bertahan hidup dan berkembang. Mereka merasa pindah ke Highbury dan promosi ke Divisi 1 adalah bagian dari evolusi klub. Namun persepsi fans Spurs berbeda jauh bagi mereka, semua itu adalah bentuk pelanggaran dan pengkhianatan.
Sejak momen itu:
- Setiap derby terasa personal.
- Setiap kemenangan membawa kepuasan emosional yang berlipat.
- Setiap kekalahan menjadi luka kolektif.
Rivalitas yang sebelumnya hanya soal kedekatan geografis kini berubah menjadi konflik identitas dan sejarah. Sebuah dendam yang lahir dari rasa dikhianati, rasa tersaingi, dan klaim siapa yang “pantas” menguasai London Utara.
Inilah titik di mana North London Derby resmi naik level, dari sekadar pertandingan derby menjadi salah satu rivalitas paling berakar dan beracun di sepak bola Inggris.
Pertemuan Awal & Sejarah Derby
Sebelum Arsenal pindah ke Highbury dan sebelum drama politik tahun 1919 terjadi, kedua klub ini sebenarnya sudah pernah saling berhadapan. Namun kala itu, atmosfernya belum seintens sekarang.
Pertandingan pertama antara Arsenal dan Tottenham berlangsung pada tahun 1887 di Tottenham Marshes. Laga tersebut tidak pernah selesai karena hari semakin gelap. Pada saat pertandingan dihentikan 15 menit sebelum waktu normal, Spurs sedang unggul 2-1. Meski hanya laga persahabatan, ini tercatat sebagai pertemuan awal dua klub yang kelak menjadi rival abadi.
Satu tahun kemudian, pada 1888, keduanya kembali bertemu. Kali ini Arsenal keluar sebagai pemenang dengan skor telak 6-2. Pertandingan-pertandingan awal ini masih berlangsung dalam suasana normal tanpa sentimen regional atau rivalitas keras.
Segalanya berubah ketika Arsenal resmi pindah ke Highbury pada 1913. Kedekatan wilayah membuat kedua klub saling berhadapan lebih sering, baik di liga maupun kompetisi piala. Dari sinilah derby mulai terasa lebih panas. Setiap pertemuan menjadi lebih emosional karena taruhan identitas dan harga diri semakin besar.
North London Derby berkembang menjadi salah satu laga yang paling ditunggu, tidak hanya di Inggris tetapi juga oleh para penggemar sepak bola dunia. Pertandingan yang awalnya biasa saja kini berubah menjadi panggung drama penuh intensitas baik di dalam maupun di luar lapangan.
Baca juga: Select MOD Scoreboard Animasi Football Manager 26 (Versi 1) – Cara Instal & Rencana Update
Momen-Momen Penting yang Bikin Rivalitas Makin Edan
Seiring berjalannya waktu, North London Derby menghasilkan banyak momen ikonik yang tidak hanya membakar emosi kedua fanbase, tetapi juga memperkuat identitas derby ini sebagai salah satu yang paling panas di dunia sepak bola. Berikut beberapa momen paling berkesan yang selalu dikenang hingga hari ini.
1. Semifinal FA Cup 1991 — Salah Satu Derby Terbesar Sepanjang Masa

Babak semifinal FA Cup tahun 1991 menjadi salah satu pertemuan paling bersejarah. Digelar di Wembley, atmosfernya luar biasa tegang. Tottenham tampil luar biasa dan menang 3-1, dipimpin oleh dua legenda mereka:
- Paul Gascoigne mencetak free-kick jarak 30 yard yang kini dianggap salah satu gol ikonik dalam sejarah FA Cup.
- Gary Lineker menyumbang dua gol tambahan.
Arsenal hanya mampu membalas melalui Alan Smith. Kemenangan itu mengantarkan Spurs ke final dan kemudian menjadi juara FA Cup.
Bagi fans Tottenham, hari itu menjadi salah satu derby terbaik yang pernah mereka saksikan—sebuah kebanggaan yang terus dibicarakan hingga sekarang.
2. 2001 — Transfer Sol Campbell: Pengkhianatan Seumur Hidup

Jika ada satu momen yang membuat permusuhan ini naik level ke ranah emosional, maka itu adalah kepindahan Sol Campbell.
Campbell adalah kapten Spurs, pemain akademi, simbol klub—dan salah satu bek tengah terbaik Inggris. Dengan kontraknya yang habis, Spurs menawarkan gaji besar agar ia bertahan. Namun keputusan Campbell justru mengejutkan dunia:
Ia pindah ke Arsenal dengan status bebas transfer.
Langkah itu dianggap sebagai pengkhianatan epik oleh fans Tottenham. Julukan “Judas” menempel padanya sampai hari ini. Ketika Campbell kembali ke White Hart Lane sebagai pemain Arsenal, atmosfernya sangat panas. Ia dilecehkan, diteriaki, bahkan dilempari benda dari tribune.
Namun dari sisi Arsenal, Campbell justru menemukan kesuksesan: titel FA Cup, bermain di final Liga Champions 2006, dan menjadi bagian dari tim legendaris The Invincibles pada 2003/04.
Bagi Spurs, ini adalah luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
3. 2014 — Theo Walcott Memberi Isyarat “2-0” dari Atas Tandu

Dalam laga FA Cup di Emirates Stadium, Arsenal memimpin 2-0 ketika Theo Walcott mengalami cedera dan harus ditandu keluar lapangan. Saat ia melewati depan tribun fans Spurs, hujan:
- koin
- botol
- dan berbagai benda kecil
mengarah ke dirinya dan tim medis.
Dalam momen yang kini menjadi meme, Walcott membalas dengan senyum lebar sambil menunjukkan gestur “2-0” menggunakan jarinya ke arah fans Tottenham.
Petugas medis sampai kena lemparan juga. Aksi Walcott itu langsung menjadi viral dan menjadi salah satu momen paling ikonik dalam derby modern.
Lebih dari sekadar pertandingan, North London Derby adalah cerita tentang identitas, wilayah, dan sejarah panjang yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari kepindahan Arsenal ke Highbury, skandal politik 1919, hingga drama-drama besar seperti gol Gascoigne, kontroversi Sol Campbell, dan gestur Walcott—semua membentuk rivalitas yang tidak pernah mereda.
Setiap pertemuan Arsenal dan Tottenham bukan hanya soal siapa yang lebih baik di lapangan. Ini tentang siapa yang menguasai London Utara, siapa yang punya kebanggaan lebih besar, dan siapa yang bisa berjalan ke kantor keesokan harinya tanpa menjadi bahan olok-olok.
Lebih dari seratus tahun berlalu, dendam dan cerita ini terus hidup. Setiap musim menghadirkan bab baru, pemain baru, dan drama baru yang membuat derby ini tetap relevan dan ditunggu para pecinta sepak bola di seluruh dunia.
Satu hal yang pasti: North London Derby tidak akan pernah menjadi pertandingan biasa. Ia adalah panggung emosi, sejarah, dan kebanggaan. Dan selama Arsenal dan Tottenham berdiri, cerita panjang ini tidak akan pernah selesai.
Baca juga: Rahasia Staff FM26: Panduan Lengkap Memilih Pelatih, Scout, dan Tim Medis yang Tepat


