Kelembagaan Bencana Indonesia Dinilai Tumpul: Wacana Kementerian Baru Justru Memperlihatkan Kegagalan Sistem
Diskusi pembentukan Kementerian Bencana semakin menyorot kelemahan sistem kebencanaan Indonesia.
Banyak pihak telah lama mengeluhkan lambatnya respons, birokrasi yang berbelit, dan koordinasi yang sering macet antara pusat dan daerah.
Meski BNPB telah bekerja keras, kapasitas kelembagaan negara tampak belum memadai untuk menghadapi skala bencana yang terus berkembang.
Karena itu, usulan DPR dinilai sebagai cermin dari masalah yang lebih dalam: sistem kebencanaan Indonesia memang tidak sedang baik-baik saja.
Respons Lapangan yang Terus Dianggap Lambat
Beberapa pola masalah muncul berulang setiap bencana:
- logistik terhambat berhari-hari,
- kurangnya tenaga di lokasi terpencil,
- ketidaksiapan alat berat,
- lambatnya penetapan status darurat,
- minimnya koordinasi lintas lembaga.
Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan bukan hanya teknis, tetapi kelemahan sistem yang terus dibiarkan.
Indonesia masih mengandalkan pola respons—bergerak setelah bencana terjadi.
Padahal mitigasi harus menjadi inti sistem, termasuk edukasi publik, penguatan infrastruktur tahan bencana, dan sistem peringatan dini.
Namun anggaran mitigasi di berbagai daerah justru sangat rendah, menunjukkan bahwa pemerintah belum menempatkan pencegahan pada prioritas yang seharusnya.
BNPB mengemban tugas besar, tetapi tidak memiliki posisi politik sekuat kementerian.
Akibatnya, koordinasi sering tersendat ketika harus memaksa daerah untuk melaksanakan standar kesiapsiagaan.
Usulan Kementerian Bencana muncul sebagai jawaban terhadap celah ini, meski ia sendiri menimbulkan tantangan baru.
Jika negara sampai perlu melempar wacana kementerian baru, itu pertanda ada yang sangat salah dengan sistem yang sekarang.
Sayangnya, bukannya memperbaiki akar masalah, pemerintah justru sibuk menambah lapisan baru birokrasi.
Padahal korban terus meningkat setiap tahun. Seolah-olah pemerintah baru “sibuk” ketika ada panggung politik, bukan ketika rakyat butuh pertolongan cepat.
Dan jujur saja—publik semakin lelah melihat pola ini berulang tanpa perubahan nyata.


