Konten “A Day in My Life” Agung Surahman di Lokasi Bencana Sumatra Picu Sorotan Publik
Jadigini.com – Asisten Pribadi Presiden Prabowo Subianto, Agung Surahman, tengah menjadi pusat perhatian publik setelah mengunggah video bertema “A Day in My Life” ketika mendampingi kunjungan kerja ke wilayah terdampak banjir bandang dan longsor di Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat. Video berdurasi singkat itu menampilkan momen rutinitas Agung dari bangun tidur di hotel hingga perjalanannya menuju area bencana.
Table Of Content
Meski secara umum konsep video harian sering dianggap wajar di platform digital, publik menilai konteks pengambilan video ini tidak tepat. Kondisi di lapangan masih sangat memprihatinkan, dengan ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal dan membutuhkan bantuan cepat. Kehadiran pejabat di lokasi bencana biasanya diharapkan membawa rasa empati, fokus, serta dukungan moral bagi masyarakat.
Namun, gaya santai yang ditampilkan Agung justru dianggap tidak sesuai dengan suasana duka yang sedang berlangsung.
Sorotan pada Angle, Musik, dan Gaya Penyajian
Banyak warganet menyoroti pemilihan angle visual yang dianggap terlalu menonjolkan sisi personal dan glamor. Beberapa adegan memperlihatkan suasana hotel, proses bersiap-siap, dan pengambilan gambar yang berfokus pada rutinitas pribadi, bukan situasi lapangan. Selain itu, penggunaan musik yang ceria semakin memicu komentar negatif karena dipandang tidak sejalan dengan kondisi para korban di daerah terdampak.
Warganet menyebut bahwa konten tersebut seakan mengabaikan realitas berat yang dihadapi masyarakat. Alih-alih menyoroti perjuangan tim penyelamat, kondisi para korban, atau proses evakuasi, video itu justru memberikan kesan dokumentasi gaya hidup, sehingga terasa tidak peka.
Respons Publik: Tuntutan Agar Pejabat Lebih Sensitif
Kritik dari publik muncul tidak hanya dari warganet biasa tetapi juga dari sejumlah pengamat komunikasi dan aktivis kebencanaan. Mereka menilai bahwa seorang pejabat maupun staf kepresidenan memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga sensitivitas saat memproduksi konten publik, terlebih ketika berada di tengah situasi krisis.
Menurut mereka, konten yang diunggah oleh seseorang yang sedang mendampingi kunjungan Presiden seharusnya menggambarkan keseriusan penanganan bencana, bukan kegiatan pribadi yang tidak relevan. Video tersebut dinilai memberi kesan bahwa perjalanan dinas ke lokasi bencana digunakan sebagai latar untuk konten personal.
Publik menilai bahwa insiden ini menjadi peringatan penting bagi seluruh pejabat dan staf negara agar lebih memahami suasana psikologis masyarakat yang tengah berduka.
Standar Etika dalam Komunikasi Pejabat Negara
Kontroversi yang muncul menyoroti pentingnya standar etika komunikasi digital bagi pejabat. Dalam era media sosial, setiap unggahan pejabat dan orang-orang di lingkaran kekuasaan dapat memengaruhi citra institusi negara. Karena itu, pemilihan konten menjadi hal yang tidak dapat dianggap remeh.
Para ahli etika komunikasi menyebut bahwa sensitivitas, empati, dan konteks harus menjadi panduan utama dalam membuat konten di masa krisis. Konten seharusnya fokus pada informasi penting mengenai kondisi lapangan, upaya pemerintah, dan kebutuhan masyarakat, bukan pada aktivitas harian yang tidak memiliki nilai urgensi.
Video Agung menjadi contoh nyata bagaimana gaya komunikasi yang kurang tepat dapat menimbulkan persepsi negatif, meski mungkin tidak dimaksudkan demikian.
Dampak pada Persepsi Publik dan Pembelajaran Penting
Setelah video itu viral, berbagai diskusi bermunculan mengenai bagaimana pejabat negara seharusnya bersikap saat menghadapi bencana. Banyak pihak meminta agar setiap tim komunikasi di lingkungan pemerintah memberikan pendampingan lebih ketat kepada pejabat maupun staf agar tidak salah langkah di ruang digital.
Persepsi publik terhadap pemerintah dapat dengan mudah terganggu oleh konten yang tidak sensitif, bahkan jika pejabat tersebut tidak memiliki niat buruk. Dalam kasus ini, publik menilai bahwa fokus utama pejabat seharusnya adalah memastikan penanganan bencana berjalan optimal dan mendukung pemulihan masyarakat, bukan membuat konten yang memperlihatkan sisi personal.
Insiden ini juga menjadi pengingat bahwa media sosial dapat menjadi pedang bermata dua. Pejabat memang perlu membangun kedekatan dengan publik, tetapi harus tetap menjaga konteks dan empati.
Harapan Publik ke Depan
Respons keras dari masyarakat menunjukkan bahwa publik semakin kritis terhadap komunikasi pejabat. Mereka berharap setiap perwakilan pemerintah memahami bahwa kepekaan adalah hal mendasar, terutama saat ribuan orang sedang mengalami musibah.
Kontroversi ini memberikan pelajaran penting bahwa narasi digital harus menggambarkan prioritas utama: membantu masyarakat, menghadirkan empati, dan menjaga kepercayaan publik. Ke depan, masyarakat berharap tidak ada lagi konten pejabat yang menimbulkan persepsi tidak pantas di tengah bencana.


