Setelah Maduro ‘Diculik’, Venezuela Buka Kran Minyak untuk AS? Ini Fakta di Balik Reformasi Kontroversial
Jadigini.com – Perubahan besar sedang bergulir di Venezuela, sebuah negara Amerika Selatan yang kaya minyak namun terbelit krisis politik dan ekonomi. Presiden sementara Delcy Rodriguez baru saja menandatangani undang-undang reformasi yang akan membuka pintu privatisasi sektor minyak nasional negara tersebut. Langkah ini, yang datang tak lama setelah insiden penculikan mantan pemimpin Nicolas Maduro oleh militer AS, memenuhi tuntutan utama dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sekaligus memicu gelombang pertanyaan tentang kedaulatan dan masa depan ekonomi Venezuela.
Table Of Content
Reformasi Sektor Minyak: Jalan Baru untuk Venezuela?
Undang-undang reformasi yang baru ini menandai era baru bagi industri minyak Venezuela. Dengan disahkannya aturan ini, perusahaan-perusahaan swasta kini akan memiliki kendali lebih besar atas penjualan dan produksi minyak di negara tersebut. Selain itu, reformasi ini juga mengharuskan perselisihan hukum diselesaikan di luar pengadilan Venezuela, sebuah perubahan yang telah lama didambakan oleh perusahaan asing yang kerap mengeluhkan dominasi partai sosialis yang berkuasa di sistem peradilan negara itu. Pemerintah juga akan membatasi royalti yang dikumpulkan menjadi 30 persen.
Pada upacara penandatanganan yang dihadiri oleh sejumlah pekerja minyak negara, Rodriguez memuji reformasi ini sebagai langkah positif untuk perekonomian Venezuela. “Kita berbicara tentang masa depan. Kita berbicara tentang negara yang akan kita berikan kepada anak-anak kita,” ujarnya dengan penuh harap. Jorge Rodriguez, kepala Majelis Nasional dan juga saudara dari presiden sementara, turut menambahkan sentimen positif, mengatakan, “Hanya hal-hal baik yang akan datang setelah penderitaan.”
Tekanan Amerika Serikat dan Kasus Nicolas Maduro
Reformasi ini tidak terlepas dari tekanan intens dari pemerintahan Trump. Sejak penculikan mantan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, dan istrinya, Cilia Flores, oleh militer AS pada 3 Januari, Washington secara konsisten mendesak Presiden Rodriguez untuk membuka sektor minyak negara itu bagi investasi asing. Bahkan, Trump sempat memperingatkan Rodriguez bahwa ia bisa “membayar harga yang sangat besar, mungkin lebih besar dari Maduro,” jika ia gagal memenuhi tuntutan AS.
Insiden penculikan Maduro sendiri mengakibatkan puluhan kematian, dan banyak kritikus menuduh AS melanggar kedaulatan Venezuela. Para pejabat pemerintahan Trump juga telah menyatakan bahwa AS akan memutuskan kepada siapa dan dengan syarat apa minyak Venezuela akan dijual, dengan hasil yang disimpan di rekening bank yang dikendalikan AS. Kekhawatiran tentang legalitas langkah-langkah semacam itu atau kedaulatan Venezuela secara terang-terangan diabaikan oleh Trump dan sekutunya, yang sebelumnya menegaskan bahwa minyak Venezuela “seharusnya menjadi milik” AS.
Pelonggaran Sanksi: Insentif dari Washington
Beriringan dengan penandatanganan undang-undang reformasi oleh Rodriguez, pemerintahan Trump secara bersamaan mengumumkan akan melonggarkan beberapa sanksi yang membatasi penjualan minyak Venezuela. Departemen Keuangan AS menyatakan akan mengizinkan transaksi terbatas oleh pemerintah negara itu dan perusahaan minyak negara PDVSA, yang “diperlukan untuk pengangkatan, ekspor, reekspor, penjualan, penjualan kembali, pasokan, penyimpanan, pemasaran, pembelian, pengiriman, atau transportasi minyak asal Venezuela, termasuk pemurnian minyak tersebut, oleh entitas AS yang mapan.”
Sebelumnya, seluruh sektor minyak Venezuela tunduk pada sanksi luas AS yang diberlakukan pada tahun 2019, di bawah masa jabatan pertama Trump sebagai presiden. Serangkaian perubahan yang diumumkan ini dirancang untuk membuat pasar minyak Venezuela lebih menarik bagi perusahaan minyak asing, banyak di antaranya masih ragu untuk berinvestasi di negara tersebut mengingat situasi politik yang tidak stabil.
Jejak Sejarah: Nasionalisasi dan Pengaruh Asing
Sektor minyak Venezuela dinasionalisasi pada tahun 1970-an. Kemudian, pada tahun 2007, pendahulu Maduro, Hugo Chavez, mendorong pemerintah untuk meningkatkan kendali dan mengambil alih aset-aset yang dimiliki asing. Di bawah kepemimpinan Maduro, Venezuela mengalami gelombang represi politik dan ketidakstabilan ekonomi, dengan sebagian besar pemerintahannya tetap utuh meskipun Maduro sendiri saat ini sedang menunggu persidangan di penjara New York.
Meskipun langkah reformasi ini disebut akan membawa masa depan yang lebih baik, banyak pihak yang mengamati dengan saksama bagaimana keseimbangan antara kebutuhan ekonomi domestik, tekanan internasional, dan kedaulatan negara akan terwujud. Keputusan ini berpotensi mengubah lanskap ekonomi dan politik Venezuela secara fundamental, namun juga memunculkan pertanyaan kritis tentang arah kedaulatan dan independensi energi negara tersebut.


