Gibran Rakabuming Raka: Dari Pengusaha Milenial ke Wakil Presiden Termuda RI
Di usia yang masih sangat muda untuk ukuran kursi Wakil Presiden – yaitu 37 tahun – Gibran Rakabuming Raka telah menorehkan jejak yang cukup luar biasa: dari pengusaha sukses, hingga wali kota, dan kini menjabat sebagai orang nomor dua di Republik Indonesia. Perjalanan kariernya yang cepat dan penuh liku tersebut memunculkan harapan sekaligus kritik, menjadikannya salah satu figur yang tak bisa dilewatkan dalam wacana politik dan pemerintahan masa kini.
Pada momen ini, Gibran bukan hanya mewakili generasi muda yang masuk ke dalam lingkar kekuasaan — tetapi juga membawa beban identitas sebagai anak dari presiden sebelumnya, yang otomatis menyoroti isu lebih besar tentang regenerasi, dinasti politik, serta perubahan gaya kepemimpinan di Indonesia.
Table Of Content
Latar Belakang & Awal Mula
Data Biografi Kunci
- Nama Lengkap: Gibran Rakabuming Raka (Wikipedia)
- Tempat & Tanggal Lahir: Surakarta, Jawa Tengah – 1 Oktober 1987 (Wikipedia)
- Orang Tua:
- Pendidikan:
- Karier Bisnis Awal: Sebelum terjun ke politik, Gibran mendirikan beberapa usaha kuliner seperti katering “Chilli Pari” dan jaringan martabak “Markobar”. (eprints2)
Keluarga: Menikah dengan Selvi Ananda (2015) dan dikaruniai dua anak. (Wikipedia)
Perjalanan Menuju Puncak / Titik Balik
Karier publik Gibran bisa dibilang memasuki fase baru ketika ia memutuskan meninggalkan zona nyaman sebagai pengusaha untuk terjun ke politik lokal. Pada akhir tahun 2020, ia mencalonkan diri sebagai Wali Kota Surakarta dan menang telak dengan lebih dari 86 % suara. (Wikipedia) Jabatan tersebut ia emban mulai 26 Februari 2021 hingga pengunduran dirinya 16 Juli 2024 guna fokus pada pencalonan nasional. (Wikipedia)
Titik balik terbesar datang ketika ia dipasangkan dengan Prabowo Subianto dalam pemilihan presiden 2024 sebagai calon wakil presiden. Meski usianya masih muda dan pengalaman politiknya relatif terbatas, pasangan tersebut memenangkan pemilu dan Gibran dilantik sebagai Wakil Presiden pada 20 Oktober 2024 — menjadikannya wakil presiden termuda dalam sejarah Indonesia. (Wikipedia)
Dampak, Karya, atau Kontroversi
Gibran membawa agenda yang cukup spesifik untuk generasi muda dan pemerintahan yang ‘ramah bisnis’. Ia mengusung digitalisasi layanan publik selama masa jabatannya di Solo, serta menekankan pemberdayaan UMKM. (Bijak Memilih) Sebagai Wakil Presiden, ia juga mulai mengambil inisiatif untuk memasukkan topik Kecerdasan Buatan (AI) ke kurikulum sekolah nasional — menandakan perubahan prioritas menuju ekonomi kreatif dan teknologi. (Wikipedia)
Namun, kariernya juga tidak lepas dari sorotan kritis. Pertama, pencalonan Gibran menuai tudingan “politik dinasti”, mengingat ia adalah anak presiden petahana. (Wikipedia) Kedua, ada kontroversi terkait persyaratan usia calon wakil presiden yang akhirnya diubah agar Gibran bisa mencalonkan diri — langkah yang menimbulkan perdebatan konstitusional. (Wikipedia)
Sorotan
- Menjadi Wakil Presiden Indonesia termuda (usia 37 tahun) sejak dilantik pada 20 Oktober 2024. (Wikipedia)
- Dari pengusaha kuliner milenial ke politik nasional — mendirikan perusahaan katering dan martabak sebelum jabatan publik. (eprints2)
- Memimpin Kota Solo sebagai Wali Kota dengan persentase kemenangan luar biasa dan mendapat predikat popularitas tinggi. (Wikipedia)
Munculnya kritik kuat terhadap isu dinasti politik dan proses pencalonannya yang dianggap meniadakan beberapa regulasi usia calon. (Bijak Memilih)
Kesimpulan
Gibran Rakabuming Raka adalah figur yang hadir sebagai simbol perubahan: generasi muda yang bergerak cepat, bercita-cita besar, dan menempuh jalan lintas dunia bisnis ke politik. Namun, bersama kesempatan besar itu muncul tantangan bukan kecil — legitimasi, rekam jejak, dan ekspektasi publik berada dalam sorotan ketat.
Jika ia mampu menjawab harapan publik dengan kinerja konkret dan tetap menjaga jarak dari bayang-bayang dinasti, maka Gibran bisa menjadi contoh sukses generasi baru pemimpin Indonesia. Sebaliknya, bila ia gagal mendemonstrasikan substansi, narasi tentang “anak presiden” atau “politik keluarga” bisa terus membayangi. Apakah Gibran akan bisa menorehkan legacy yang berbeda?


