Curah Hujan Tinggi Akhir Tahun: Dampak La-Nina & Monsun Asia Perlu Diwaspadai
Indonesia memasuki periode cuaca dengan intensitas hujan yang meningkat signifikan. BMKG memprediksi bahwa awal Desember 2025 akan ditandai oleh kombinasi fenomena atmosfer yang saling memperkuat, mulai dari La-Nina lemah hingga pengaruh gelombang tropis.
Table Of Content
Situasi ini bukan hanya menandai puncak musim hujan, namun juga menunjukkan adanya dinamika atmosfer yang cukup kompleks sehingga masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan.
BMKG menyebut bahwa beberapa wilayah sudah mencatat curah hujan harian yang sangat tinggi, yakni 92 mm, 89 mm, dan 83,4 mm. Bahkan, status siaga telah dikeluarkan untuk berbagai wilayah.
Dalam pernyataan BMKG, disebutkan bahwa peningkatan aktivitas hujan dipicu oleh dinamika atmosfer yang berkembang, yang dapat menambah risiko banjir dan longsor.
Fenomena Atmosfer yang Memperkuat Intensitas Hujan
La-Nina lemah yang mulai aktif (dengan indeks Nino 3.4 sebesar -0.42) berperan besar dalam meningkatkan curah hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian timur.
Beberapa dampak dari pergerakan La-Nina ini berupa pertumbuhan awan hujan meningkat, frekuensi hujan lebat lebih sering muncul, dan risiko banjir musiman meningkat.
La-Nina sering dikaitkan dengan anomali cuaca basah dan perlu diwaspadai dampaknya pada wilayah rawan banjir dan longsor.
Kemudian kemunculan gelombang tropis Kelvin dan Rossby meningkatkan konvergensi udara akan berefek pada pertumbuhan awan konvektif yang menjadi lebih intens, hujan lebat dapat berlangsung lebih lama, juga wilayah yang berada di jalur gelombang ini menjadi lebih rentan.
BMKG mencatat bahwa gelombang-gelombang atmosfer ini akan aktif sepanjang pekan pertama Desember.
Lalu Monsun Asia yang kini berada pada fase aktif akan membawa lebih banyak uap air dari Samudra Hindia menuju Indonesia.
Dampaknya adalah potensi hujan lebat di Sumatera, Jawa Barat, dan Kalimantan meningkat, lalu potensi angin kencang ikut meningkat.
Wilayah Paling Berisiko Terkena Dampak
Beberapa wilayah sudah berada dalam kategori siaga hujan lebat, termasuk:
- Aceh
- Sumatera Utara
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
- Nusa Tenggara Barat
- Kalimantan Tengah
- Maluku Utara
- Papua Pegunungan
Sementara wilayah dengan ancaman angin kencang meliputi:
- Sulawesi Utara
- Bangka Belitung
- Kalimantan Selatan
- Maluku Utara
Ancaman Bencana Hidrometeorologi
Dengan kombinasi fenomena atmosfer yang aktif, potensi bencana hidrometeorologi meningkat tajam, diantaranya:
- Banjir di kawasan dataran rendah dan bantaran sungai.
- Longsor di daerah berbukit dengan tanah lembek.
- Pohon tumbang karena angin kencang.
- Gangguan transportasi, terutama udara dan laut.
Masyarakat di wilayah risiko tinggi diimbau melakukan pengecekan saluran air, menghindari aktivitas di daerah rentan longsor, dan mengikuti pembaruan informasi cuaca dari BMKG.


