jadigini.com – Di era di mana musik K-Pop menjadi standar emas invasi budaya pop global, sulit membayangkan genre lain bisa meniru formula yang sama. Apalagi jika genre itu adalah Hipdut, perpaduan hip-hop dengan dangdut koplo yang sering dianggap terlalu lokal untuk selera internasional. Namun, musik tidak pernah peduli dengan batasan geografis. Sebuah proyek ambisius kini tengah menjembatani jurang budaya antara Jakarta dan Tokyo, membuktikan bahwa irama gendang pun bisa terdengar seksi di telinga orang Jepang.
Kisah ini tidak dimulai dari seorang penyanyi, melainkan dari sebuah ‘suara’. Adalah F4dli dari FloorInc, produser di balik lagu viral “Aku Dah Lupa”, yang menjadi pemicu utama proyek gila ini. Karakter sound yang ia ciptakan ternyata berhasil menarik perhatian divisi musik raksasa di Jepang.
“Jadi, tim Sony Music Indonesia sedang melakukan proyek kerja sama dengan Sony Music Japan dan mereka menawariku untuk berkolaborasi dengan artis Jepang karena tertarik dengan karakter sound-ku,” jelas F4dli. Ini adalah momen langka di mana bukan popularitas artis, melainkan keunikan racikan musik seorang produser yang menjadi tiket masuk ke pasar internasional. Dari ketertarikan pada sound inilah, ide untuk menyatukan dua budaya lewat sebuah lagu mulai digodok.
Lahirnya kolaborasi antara Sisca Saras dari Indonesia dan NecoMe (Ayaka Yasumoto) dari Jepang adalah buah dari visi tersebut. Menariknya, takdir seolah ikut campur tangan. Keduanya ternyata memiliki latar belakang yang serupa: sama-sama pernah merasakan kerasnya industri idol di negara masing-masing. Kesamaan jalur karier ini menjadi fondasi emosional yang kuat, membuat kolaborasi lintas negara ini terasa lebih personal.
“Aku selalu senang kalau diajak untuk melakukan proyek kolaborasi, apalagi mendapat kesempatan untuk nyanyi bareng dengan artis Jepang yang kebetulan punya latar belakang yang mirip,” ungkap Sisca Saras. Baginya, ini bukan sekadar proyek internasional pertama, melainkan sebuah pengalaman berharga di mana ia menemukan cerminan perjalanannya pada diri seorang musisi dari negara lain.
Tentu saja, menyatukan dua kepala dari latar budaya dan bahasa yang berbeda bukanlah perkara mudah. Proses kreatif single berjudul “Swipe Kanan Kiri” ini harus melalui workshop intensif yang dijembatani oleh penerjemah. Namun, tantangan bahasa justru menjadi bumbu penyedap. Hasil akhirnya adalah sebuah lagu yang liriknya mengalir dalam dua bahasa, selaras dengan musik Hipdut modern racikan F4dli. Kolaborasi ini bukan lagi sekadar proyek musik, melainkan sebuah bukti bahwa di dunia yang terhubung, dangdut dan J-Pop bisa berdansa di lantai yang sama.


