Yohanna Bukan Film Agama, Tapi Mengapa Sosok Biarawati Jadi Pusat Cerita?
Jadigini.com – Ada sebuah titik dalam hidup ketika realitas yang keras membenturkan kita pada tembok pertanyaan paling fundamental: apakah semua yang kita yakini selama ini benar adanya? Pertanyaan ini tidak mengenal status, profesi, atau bahkan jubah keagamaan. Ia bisa datang kapan saja, kepada siapa saja, sering kali di saat kita merasa paling rapuh. Fenomena inilah yang tampaknya menjadi jantung dari film terbaru berjudul Yohanna.
Meski menampilkan seorang biarawati sebagai karakter utamanya, film ini sejak awal menegaskan posisinya. Ini bukanlah perjalanan dakwah atau drama religius konvensional. Sebaliknya, Yohanna memilih jalur yang lebih sunyi dan personal, sebuah eksplorasi tentang kerapuhan iman di tengah dunia yang tidak selalu memberi jawaban mudah.
Dari Misi Kemanusiaan ke Krisis Eksistensial
Kisah Yohanna, yang diperankan oleh Laura Basuki, dimulai dengan sebuah tugas yang terdengar mulia. Ia adalah seorang biarawati muda yang dikirim untuk sebuah misi kemanusiaan di Sumba, Nusa Tenggara Timur, sebuah wilayah yang sedang memulihkan diri pasca hantaman Badai Tropis Seroja. Namun, idealisme Yohanna segera diuji ketika truk berisi donasi yang ia kawal dicuri orang.
Insiden ini menjadi pintu gerbang yang menyeretnya lebih dalam ke realitas Sumba yang sesungguhnya. Misi yang tadinya sederhana berubah menjadi perjalanan yang mempertaruhkan keyakinannya. Ia dipaksa berhadapan langsung dengan kemiskinan sistemik, aparat korup yang tak bisa diandalkan, dan pemandangan anak-anak yang terenggut masa kecilnya untuk bekerja. Di titik inilah, Yohanna mulai bergulat tidak hanya dengan masalah di luar dirinya, tetapi juga dengan badai di dalam batinnya sendiri.
Sebuah Gugatan Universal, Bukan Pesan Satu Agama
Sutradara sekaligus penulis skenario, Razka Robby Ertanto, secara gamblang menjelaskan bahwa penggunaan karakter biarawati adalah sebuah sarana, bukan tujuan. “Saya pastikan Yohanna bukanlah film tentang agama apalagi cerita satu agama tertentu. Saya ingin membuat film dengan pesan universal,” ujarnya.
Menurut Razka, pertanyaan yang menghantui Yohanna adalah pertanyaan yang pernah, sedang, atau akan kita semua hadapi. “Yohanna mengalami apa yang kita semua pernah rasakan, titik di mana kita bertanya, apakah semua yang kita yakini selama ini benar adanya. Itu bukan pertanyaan milik seorang biarawati saja. Itu pertanyaan kita semua,” tambahnya. Dengan pendekatan ini, film yang diproduksi oleh Summerland, Reason8 Films, dan Pilgrim Film ini bertujuan memberikan pengalaman menonton yang berbeda dan membekas, jauh dari formula film Indonesia pada umumnya.
Penampilan Laura Basuki yang diganjar penghargaan Best Actress di Asian Film Festival 2025 menjadi bukti betapa kompleks dan dalamnya penjiwaan karakter ini. Laura sendiri mengakui bahwa kisah Yohanna terasa begitu dekat dan memberinya banyak pelajaran hidup. Dijadwalkan rilis di bioskop Indonesia mulai 9 April 2026, Yohanna tampaknya akan menjadi sebuah refleksi yang kuat tentang pencarian makna di tengah kehilangan.


