Jadigini.com – Di tengah badai kehidupan yang menarik seseorang ke pusaran perhatian publik, sering kali muncul sebuah titik balik. Momen di mana seseorang tidak hanya bertahan, tetapi juga menemukan panggung baru untuk mengekspresikan diri. Panggung itu bisa datang dalam berbagai bentuk, termasuk gemerlapnya sebuah runaway fashion show.
Fenomena inilah yang tampaknya tengah dialami oleh Wardatina Mawa. Namanya belakangan ini kerap dikaitkan dengan polemik antara Insanul Fahmi dan Inara Rusli. Namun, alih-alih tenggelam dalam prahara tersebut, Mawa justru memilih untuk melangkah ke sebuah dunia yang benar-benar baru baginya: menjadi model.
Bagi ibu dua anak ini, debutnya di atas catwalk bukan sekadar pelarian, melainkan sebuah pengalaman yang menyegarkan. “Seru banget emang ya. Menambah pengalaman baru lah ya,” ungkap Mawa saat ditemui di Jakarta Selatan. Momen berjalan anggun memeragakan busana Muslim seolah menjadi oase di tengah situasi yang tengah ia hadapi.
Panggung Pertama yang Penuh Makna
Keputusan Mawa untuk menerima tawaran menjadi model ternyata tidak sembarangan. Ada prinsip-prinsip mendasar yang membuatnya yakin untuk mengambil langkah tersebut. Bukan soal popularitas atau sorotan kamera, melainkan keselarasan acara dengan nilai-nilai yang ia pegang teguh.
Ia mengaku tertarik karena peragaan busana yang ia ikuti secara spesifik mengangkat tema fashion Muslimah dengan nuansa yang sangat kental. “Alhamdulillah, vibesnya juga Islami, temanya kan emang fashion muslimah kan, terus emang yang hitam-hitam, vibesnya Arabic gitu kak,” jelasnya.
Lebih dari itu, ada dua detail penting yang menjadi pertimbangan utamanya. Pertama, busana yang ditampilkan oleh brand lokal tersebut sangat mendukung para wanita yang mengenakan niqab. Kedua, dan ini yang paling unik, acara tersebut sama sekali tidak menggunakan musik sebagai latar belakang, melainkan lantunan nasyid. Kombinasi inilah yang menciptakan atmosfer yang menenangkan dan membuatnya nyaman.
Syariat di Atas Segalanya
Bagi Mawa, penampilan seorang perempuan Muslimah harus selalu berlandaskan pada aturan yang ada. Ia menekankan bahwa esensi dari berbusana adalah untuk menutup aurat sesuai syariat, bukan untuk memamerkan diri secara berlebihan atau yang dikenal dengan istilah tabarruj.
“Sebenarnya kalau perempuan itu kan, emang kita nggak terlalu harus yang gimana-gimana banget ya. Jadi emang tetap menutup aurat, tetap sesuai syariat aja gitu,” ucapnya. Ia mengapresiasi brand yang mengundangnya karena memiliki visi yang sejalan, yaitu memperkenalkan busana Muslimah tanpa harus terjebak dalam tabarruj.
Pada akhirnya, pengalaman baru ini ia syukuri sebagai rezeki yang datang di waktu yang tak terduga. Sebuah pintu kesempatan yang terbuka di tengah episode hidup yang menantang. “Alhamdulillah. Nanti banyak sekali ya kegiatan akhir-akhir ini, rezeki dari Allah ya,” tutupnya dengan nada syukur.


