Jadigini.com – Bulan Ramadan sering kali menjadi momen paradoks bagi para figur publik. Di satu sisi, panggung hiburan tetap menuntut kehadiran mereka, namun di sisi lain, panggilan untuk memperdalam spiritualitas terasa lebih kuat dari biasanya. Di tengah persimpangan inilah, komitmen seorang artis terhadap keyakinannya benar-benar diuji.
Salah satu figur yang konsisten menunjukkan sisi religiusnya, terutama saat Ramadan tiba, adalah Dewi Perssik. Jauh dari citra panggungnya yang energik, bulan suci menjadi momen baginya untuk kembali ke akar tradisi yang telah ditanamkan keluarganya sejak lama.
Tradisi Keluarga yang Tak Lekang oleh Waktu
Bagi Dewi, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, ada sebuah tradisi keluarga yang selalu ia jaga dengan erat: bersedekah. Ini bukan sekadar kewajiban tahunan, melainkan sebuah warisan nilai yang mengalir dalam darahnya. Kebiasaan berbagi ini menjadi cara Dewi untuk meneruskan kebaikan yang diajarkan oleh orang tuanya, sebuah benang merah yang menghubungkan kesuksesannya saat ini dengan didikan masa kecilnya.
Tradisi ini menunjukkan bahwa di balik gemerlap dunia hiburan, fondasi keluarga tetap menjadi kompas moral yang menuntun langkahnya. Sedekah menjadi pengingat bahwa rezeki yang didapat bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.
Itikaf, Momen ‘Melarikan Diri’ dari Keriuhan Dunia
Namun, komitmen spiritual Dewi Perssik tidak berhenti pada praktik berbagi materi. Ada satu ritual lain yang ia siapkan, sebuah momen yang menuntut pengorbanan waktu dan ketenangan batin: itikaf. Praktik berdiam diri di masjid untuk beribadah ini menjadi pilihan utamanya saat jadwal pekerjaan tidak terlalu padat.
Pilihan untuk melakukan itikaf ini sangat signifikan. Di saat banyak artis lain mungkin memilih untuk mengambil sebanyak mungkin pekerjaan di bulan Ramadan, Dewi justru memprioritaskan waktu untuk menyepi dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Momen ini menjadi semacam ‘pelarian’ spiritual baginya, sebuah kesempatan langka untuk melepaskan status keartisannya dan menjadi hamba biasa yang khusyuk dalam ibadah. Ini adalah bukti bahwa baginya, kekayaan spiritual tak kalah penting dari pencapaian duniawi.


