Jadigini.com – Fenomena orang tua melepas anak belajar ke pesantren di usia dini bukan lagi hal baru di Indonesia. Di balik keputusan itu, ada proses emosional yang sering kali tak terlihat publik: adaptasi, rindu, bahkan rasa kehilangan yang datang diam-diam, terutama saat momen sakral seperti Ramadan.
Table Of Content
Bulan suci identik dengan kebersamaan keluarga. Sahur bersama, buka puasa bareng, hingga tarawih yang jadi rutinitas tahunan. Namun suasana itu berubah bagi keluarga Ustaz Solmed tahun ini.
Adaptasi Emosional yang Tak Mudah
Untuk pertama kalinya, Ramadan dijalani tanpa dua anak kembarnya, Aqil Mahmoed Sibawaih dan Mahier Mahmoed Syairozi, di rumah. Keduanya yang baru berusia tujuh tahun kini menempuh pendidikan di pesantren di Malang.
Keputusan memondokkan anak di usia belia tentu bukan langkah impulsif. Banyak orang tua memilih jalur ini demi pembentukan karakter, kemandirian, dan pendalaman ilmu agama sejak dini. Namun teori tentang pendidikan sering kali berbeda dengan realitas perasaan.
Setelah tujuh tahun hampir setiap hari diisi aktivitas bersama, rumah mendadak terasa lebih lengang. Rasa sepi muncul bukan karena kurang aktivitas, tetapi karena hilangnya momen-momen kecil yang dulu dianggap biasa.
Ramadan dan Rasa Rindu yang Berlapis
Ramadan memperbesar emosi. Tradisi sahur dan buka puasa bersama adalah simbol kebersamaan yang sulit digantikan oleh video call atau kabar singkat.
Meski berjauhan, komunikasi tetap terjaga. Perkembangan anak-anak terus dipantau melalui para ustaz pembimbing di pesantren. Informasi rutin itu setidaknya menjadi penguat hati bahwa proses belajar mereka berjalan baik.
Namun ada hal menarik dari cara sang ayah menghadapi rindu.
Mengapa Ia Justru Jarang Menjenguk?
Berbeda dengan sang istri, April Jasmine, yang rutin menyempatkan waktu ke Malang untuk melepas rindu, Ustaz Solmed justru memilih lebih jarang datang.
Alasannya bukan karena tak peduli. Ia mengaku dirinya sosok yang mudah terbawa perasaan. Pertemuan singkat justru bisa memperpanjang rasa sedih setelah berpisah kembali. Dalam sudut pandangnya, menjaga jarak sementara menjadi cara untuk menguatkan diri dan memberi ruang adaptasi yang lebih stabil bagi anak-anak.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa setiap orang tua memiliki mekanisme berbeda dalam menghadapi fase “melepaskan”. Ada yang butuh sering bertemu, ada pula yang memilih menahan diri demi kestabilan emosi.
Belajar Melepaskan, Bagian dari Tumbuh Bersama
Keputusan memondokkan anak bukan sekadar soal pendidikan agama. Ia juga menjadi proses belajar bagi orang tua: belajar percaya, belajar ikhlas, dan belajar menerima bahwa anak akan tumbuh dengan caranya sendiri.
Rasa kesepian yang diakui secara terbuka justru memperlihatkan sisi humanis seorang figur publik. Di balik panggung ceramah dan sorotan kamera, ada ayah yang sedang beradaptasi dengan rumah yang lebih sunyi.
Ramadan kali ini mungkin terasa berbeda. Namun di balik jarak Jakarta–Malang, ada tujuan yang lebih besar: membekali anak dengan ilmu dan karakter yang kelak menjadi bekal hidupnya.
Dan mungkin, justru dari rasa rindu itulah makna pengorbanan orang tua terasa paling nyata.


