Jadigini.com – Perubahan penampilan figur publik hampir selalu memancing reaksi. Apalagi jika perubahan itu menyentuh ranah keyakinan dan cara berbusana yang dianggap berbeda dari kebiasaan sebelumnya. Di era media sosial, transformasi personal sering kali tak hanya diamati, tetapi juga dihakimi.
Table Of Content
Setelah sekitar satu tahun tak muncul di ruang publik, Kartika Putri kembali dengan penampilan yang mengejutkan sebagian orang: mengenakan niqab yang menutupi seluruh wajahnya. Keputusan itu bukan tanpa konsekuensi sosial.
Teman Menjauh, Stigma Bermunculan
Dalam Podcast Hikmah Ramadhan yang tayang di kanal YouTube pribadinya, ia mengaku perubahan tersebut membuat lingkar pertemanannya berubah drastis.
“Jujur, teman aja kayak misalnya dulu waktu sebelum berniqab kita bikin kajian di rumah itu rame banget yang berani hadir, yang berani main sama kita. Nah, setelah kita hijrah berniqab banyak banget teman-teman yang takut main,” ungkap Kartika, dikutip Sabtu (21/2/2026).
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana simbol visual dapat memengaruhi persepsi sosial. Niqab, yang bagi sebagian perempuan merupakan bagian dari pilihan spiritual, sering kali dilekatkan dengan berbagai asumsi.
Tak hanya soal jarak pertemanan, ia juga menghadapi tudingan yang lebih serius.
“Katanya ‘ih si Kartika sekarang ekstrem banget ya’. Terus ‘wah kajiannya jangan-jangan kajian yang kayak langsung dituntut shalehah’. Banyak judge mental lagi yang bikin kita kayak ‘ini pasti dipaksa Habib Usman, jangan-jangan udah pernah di brain wash’,” ucap dia.
Nama suaminya, Habib Usman bin Yahya, ikut terseret dalam spekulasi tersebut. Tuduhan paksaan hingga “brain wash” muncul karena perubahan yang dianggap terlalu drastis.
Menghilang untuk Menguatkan Diri
Alih-alih meladeni polemik, Kartika memilih mundur sejenak dari sorotan publik. Ia mengaku butuh waktu untuk memperkuat batin dan menikmati proses hijrahnya tanpa gangguan opini luar.
Keputusan menghilang selama setahun menjadi ruang refleksi pribadi. Dalam banyak kasus transformasi spiritual, fase ini memang kerap diperlukan agar perubahan tidak sekadar simbolik, melainkan benar-benar dipahami secara internal.
Pengalaman Spiritual di Tanah Suci
Kartika juga membagikan pengalaman yang ia anggap sebagai “hadiah” setelah mantap berniqab. Saat berada di Tanah Suci, ia merasakan momen yang sangat membekas.
“Hadiah pertama kali berniqab itu bisa mencium Hajar Aswad tanpa ngantri, tanpa desak-desakan, bahkan dikawal sama askar. Hadiah dari suami. Masyaallah. Alhamdulillah, hadiah dari Allah lewat suami makanya indah banget,” kata Kartika.
Momen mencium Hajar Aswad bagi umat Muslim memiliki makna spiritual yang dalam. Ia menyebut pengalaman tersebut sebagai bentuk anugerah atas kesabarannya menjalani proses perubahan.
Dukungan Suami Jadi Kunci
Di tengah tekanan sosial, Kartika menegaskan bahwa dukungan suami menjadi faktor penting dalam perjalanannya. Ia merasa proses hijrah terasa lebih ringan karena dijalani bersama.
“Ingat ya, tidak gampang tapi Allah juga berikan hadiah yang tidak biasa,” pungkas dia.
Kisah ini membuka ruang diskusi yang lebih luas: bagaimana masyarakat merespons perubahan religius figur publik? Apakah setiap transformasi harus selalu dicurigai, atau justru dihargai sebagai bagian dari perjalanan personal?
Pada akhirnya, pilihan berbusana adalah ranah individu. Publik boleh memiliki opini, tetapi proses spiritual tetap menjadi urusan personal yang tak selalu bisa diukur dari tampilan luar semata.


