Jadigini.com – Di tengah sorotan publik terhadap keluarga kerajaan Inggris, ada satu isu yang terus digaungkan secara konsisten: dukungan terhadap penyintas kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga. Isu ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan komitmen yang dibawa hingga ke ruang-ruang paling privat kerajaan.
Table Of Content
Baru-baru ini, Queen Camilla mengundang Gisèle Pelicot untuk minum teh di Clarence House, kediamannya di London bersama King Charles III. Pertemuan tersebut bukan sekadar kunjungan kehormatan, melainkan percakapan emosional tentang luka, keberanian, dan perubahan narasi global soal rasa malu.
“Saya Terdiam”
Dalam percakapan yang dilaporkan BBC pada 23 Februari, Camilla menyampaikan secara langsung kekagumannya pada Pelicot.
“I’ve met so many survivors of rape and sexual abuse. I never thought I could be shocked by anything anymore, but I was shocked at your case — it left me speechless,” ujar sang Ratu.
Pernyataan itu menggambarkan betapa dalamnya dampak kasus yang dialami Gisèle Pelicot. Pada November 2020, Pelicot mengetahui bahwa suaminya selama hampir 50 tahun telah membiusnya selama lebih dari satu dekade dan mengundang lebih dari 50 pria ke rumah mereka untuk memperkosanya.
Ketika persidangan dimulai pada September 2024, Pelicot memilih mencabut hak anonimitasnya. Keputusan tersebut mengubahnya menjadi simbol keberanian bagi banyak penyintas di seluruh dunia. Seluruh 51 pria yang didakwa dinyatakan bersalah pada 2024, sementara suaminya kini menjalani hukuman 20 tahun penjara.
Memoar dan Pesan Perubahan
Camilla juga mengaku membaca memoar terbaru Pelicot, Hymn to Life: Shame has to Change Sides, hanya dalam dua hari. Buku tersebut menjadi perpanjangan suara Pelicot dalam menantang stigma terhadap korban.
Dalam wawancara eksklusif dengan PEOPLE, Pelicot mengatakan, “You can’t forget. The scar is there, and it may never fully heal,” ujarnya. “But I’ve always been a very optimistic woman. I wanted to take all of that mud and bring color back into my life.”
Kalimat itu merangkum transformasi yang ia jalani: dari korban yang disakiti, menjadi figur global yang mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap rasa malu dan tanggung jawab pelaku.
Dukungan yang Menggema
Dalam pertemuan tersebut, Pelicot datang bersama tim literer, tim hukum, serta pasangannya, Jean-Loup. Camilla sempat menyapa mereka dalam bahasa Prancis sebelum menggunakan penerjemah.
Pelicot mengaku mendapatkan “incredible strength” dari dukungan publik setelah membagikan kisahnya. Camilla pun menegaskan, “You have so much support.”
Sebelumnya, Camilla secara pribadi menulis surat kepada Pelicot untuk memuji “extraordinary dignity and courage”-nya, serta menyebut bahwa ia telah “created a powerful legacy that will change the narrative around shame, forever.” Surat itu begitu berarti bagi Pelicot hingga ia membingkainya di kantor pribadinya.


