Jadigini.com – Ramadan sering kali menjadi cermin paling jujur dalam hidup seseorang. Di bulan ketika rutinitas melambat dan refleksi diperbanyak, perubahan sekecil apa pun terasa lebih nyata. Apalagi jika yang berubah adalah dinamika keluarga setelah puluhan tahun bersama.
Table Of Content
Tahun ini menjadi fase baru bagi Atalia Praratya. Untuk pertama kalinya dalam hampir tiga dekade, ia menjalani bulan suci tanpa kehadiran mantan suaminya, Ridwan Kamil, di sisi.
Resmi Berpisah Lewat Putusan E-Court
Perceraian keduanya telah sah sejak 7 Januari 2026 melalui putusan elektronik Pengadilan Agama Bandung via sistem e-court. Setelah 29 tahun membina rumah tangga, perubahan ini tentu bukan hal kecil.
Namun jauh sebelum Ramadan tiba, Atalia mengaku sudah menyiapkan diri secara mental. Ia memahami bahwa struktur keluarga yang berubah akan berdampak pada kebiasaan sehari-hari, termasuk momen sahur dan berbuka yang selama ini identik dengan kebersamaan lengkap.
Adaptasi di Meja Makan
Suasana Ramadan kini terasa berbeda. Jika sebelumnya diskusi keluarga berlangsung ramai di meja makan, kini pola kebersamaan itu disesuaikan kembali. Meski demikian, Atalia memilih melihat situasi ini sebagai ruang pertumbuhan, bukan kehilangan semata.
“Ada yang beda (Ramadan tahun ini), tetapi ya kita hadapi saja “
“Yang paling penting adalah niatnya untuk selalu memperbaiki diri,” kata Atalia dilansir Kompas.com pada Minggu (01/03/2026).
Pernyataan itu mencerminkan sikap penerimaan yang tenang. Ia tidak menampik adanya perbedaan, tetapi juga tidak membiarkannya menjadi beban berlarut.
Fokus Ibadah dan Dukungan Keluarga
Ketika ditanya apakah puasa kali ini terasa lebih berat, jawabannya justru sederhana.
“Enggak sih, biasa aja. Karena saya juga ada Mama di rumah, jadi biasa,” ujar Atalia.
Kehadiran sang ibu menjadi penguat emosional di tengah fase transisi. Di sisi lain, ia juga mempererat hubungan dengan anak-anak, termasuk mengenang mendiang Emmeril Khan yang selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan spiritual keluarganya.
Atalia menegaskan bahwa Ramadan kali ini ia niatkan sebagai momentum memperdalam ibadah.
“Tapi yang paling penting adalah kita niatkan di bulan Ramadan ini semakin mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.”
Ramadan Sebagai Ruang Pemulihan
Perubahan dalam keluarga bukan perkara mudah, terlebih setelah hampir tiga dekade membangun kebersamaan. Namun Ramadan kerap menjadi ruang pemulihan batin. Dalam kesunyian sahur dan doa malam, seseorang bisa menemukan makna baru dari kehilangan dan perubahan.
Apa yang dijalani Atalia memperlihatkan bahwa perpisahan tidak selalu identik dengan keterpurukan. Ada proses menerima, menata ulang, dan memperkuat fondasi spiritual yang justru tumbuh di tengah ujian.
Ramadan tahun ini mungkin terasa berbeda baginya. Tetapi seperti yang ia katakan, yang terpenting adalah niat untuk terus memperbaiki diri. Dan di situlah lembaran baru itu benar-benar dimulai.


