Jadigini.com – Banyak perempuan kerap menormalisasi nyeri haid sebagai bagian dari siklus bulanan. Padahal, dalam beberapa kasus, rasa sakit yang berlebihan bisa menjadi sinyal bahwa tubuh sedang memberi peringatan serius. Kesadaran untuk memeriksa diri sejak dini sering kali menjadi pembeda antara penanganan cepat dan risiko yang berlarut.
Table Of Content
Pengalaman inilah yang dibagikan oleh Chelsea Olivia. Istri dari Glenn Alinskie ini mengungkap perjuangan menghadapi gangguan kesehatan pada organ reproduksinya yang bermula dari gejala yang sempat dianggap biasa.
Berawal dari Nyeri yang Tak Wajar
Kisahnya dimulai sepulang liburan dari Jepang pada Januari lalu. Chelsea merasakan nyeri menstruasi yang berbeda dari biasanya. Kram terasa lebih hebat, bahkan disertai ketidaknyamanan yang tidak pernah ia alami sebelumnya.
Awalnya, kondisi itu dianggap sebagai efek kelelahan. Namun situasi berubah ketika pendarahan tak kunjung berhenti.
“Tapi ternyata (darah) tidak berhenti. Sudah 10 hari, lalu 2 minggu, hingga memasuki 2 bulan, aku masih terus berdarah,” tulis Chelsea Olivia dalam unggahannya.
Upaya Medis yang Berlapis
Merasa ada yang tidak beres, ia segera berkonsultasi ke dokter spesialis kandungan. Hasil pemeriksaan awal menyatakan rahimnya sehat, tanpa miom atau kista, dan sel telur dalam kondisi baik. Ia pun diberi obat penyeimbang hormon.
Sayangnya, setelah 10 hari konsumsi obat, pendarahan tetap berlangsung. Tubuhnya justru semakin lemas. Ia kemudian memeriksakan diri ke dokter penyakit dalam, menjalani tes darah lengkap, hingga kembali ke dokter kandungan untuk melepas IUD.
Namun jawaban yang diterima tetap sama: tidak ditemukan kelainan struktural pada rahimnya.
“Pertanyaan adalah kenapa? Sudah ada 4 macam obat dan 3 dokter tapi tidak juga berhenti. Aktivitas jadi sulit, karena kondisi tidak bisa dipastikan kadang baik kadang tidak,” keluhnya.
Dampak Fisik dan Mental
Selama dua bulan mengalami pendarahan, kondisi fisiknya menurun drastis. Wajah dan mata kerap bengkak saat bangun tidur, disertai mual dan pusing hebat. Aktivitas sehari-hari pun terganggu karena tubuh terasa lemah.
Situasi ini tak hanya menguras tenaga, tetapi juga mental. Ketidakpastian diagnosis sering kali membuat pasien merasa cemas dan frustrasi.
Memilih Operasi demi Kepastian
Demi mendapatkan penanganan lebih lanjut, Chelsea akhirnya memutuskan terbang ke Malaysia untuk menjalani operasi. Langkah tersebut diambil setelah berbagai upaya medis di dalam negeri belum memberikan solusi tuntas.
Keputusannya menjadi pengingat penting bahwa kesehatan reproduksi perempuan tak boleh disepelekan. Gejala berkepanjangan, meski hasil pemeriksaan awal tampak normal, tetap perlu ditindaklanjuti secara komprehensif.


