Jadigini.com – Pernikahan beda agama selalu menjadi topik sensitif di Indonesia. Di satu sisi, ia berbicara tentang cinta dan komitmen personal. Di sisi lain, ada norma sosial, tekanan publik, hingga konsekuensi administratif yang tak sederhana.
Table Of Content
Pengalaman inilah yang pernah dijalani oleh Rima Melati Adams bersama musisi Marcell Siahaan pada awal pernikahan mereka.
Menikah Sipil dan Bertahan di Tengah Tekanan
Rima mengungkap bahwa selama tiga tahun pertama, ia dan Marcell menjalani rumah tangga dengan keyakinan berbeda.
“Awalnya, saya dan suami itu nikah beda agama. Dia tetap menganut agama Budha, sedangkan saya dengan iman Islam saya,” ungkapnya dikutip dari podcast YouTube Melaney Ricardo, pada Selasa (3/3/2026).
Karena perbedaan tersebut, pernikahan mereka hanya terdaftar secara sipil di Singapura pada 28 Januari 2009. Secara prinsip, Rima mengaku tak mempermasalahkan perbedaan keyakinan.
“Saya terus terang tidak masalah dengan perbedaan agama. Bagi saya, yang terpenting dalam rumah tangga adalah be good dan do good (menjadi baik dan melakukan hal baik,” ungkapnya.
Ia meyakini bahwa setiap agama mengajarkan kebaikan. Jika muncul persoalan, menurutnya, itu kembali pada pribadi masing-masing, bukan pada ajaran agamanya. Karena itu, toleransi menjadi fondasi yang ia pegang.
Namun, idealisme tersebut diuji oleh realitas. Rima mengaku sempat mengalami cancel culture dari publik dan industri hiburan Malaysia karena pernikahan beda agama itu. Tekanan makin terasa karena kakak dan pamannya juga berkarier sebagai aktor di Malaysia.
Tak Pernah Memaksa Pindah Agama
Di tengah situasi tersebut, Rima mengambil sikap yang cukup tegas: ia tak ingin suaminya berpindah agama karena tekanan atau demi dirinya.
“Saya bilang ke dia, ‘Kamu temukan jalanmu sendiri, saya tak akan memaksamu masuk Islam’. Kemudian dia belajar Islam, bertemu dengan sheik, dan kemudian menjadi mualaf,” ujarnya.
Perjalanan spiritual Marcell pun tidak instan. Ia bahkan sempat mengalami dua kali perpindahan keyakinan sebelum akhirnya memeluk Islam pada 2012.
Dalam podcast Daniel Mananta Network pada 2021, Marcell tak menampik bahwa sang istri memiliki peran besar dalam proses tersebut.
“Dia itu tipe yang ngasih contoh dan itu membuat aku nyaman. Pertamanya, dia perlihatkan bagaimana keeratan keluarga dalam Islam itu membawa kehangatan untuk kita,” katanya.
Kini, sudah 14 tahun Marcell menjadi mualaf dan menjalani keyakinan yang sama dengan istrinya.
Cinta, Toleransi, dan Proses Personal
Kisah Rima dan Marcell memperlihatkan bahwa dinamika pernikahan beda agama tidak selalu hitam-putih. Ada fase menerima perbedaan, menghadapi tekanan sosial, hingga membiarkan proses spiritual berjalan secara personal.
Yang menarik, perubahan keyakinan dalam cerita ini tidak lahir dari paksaan, melainkan dari proses pencarian. Rima memilih memberi ruang, bukan tekanan.
Di tengah perdebatan panjang soal nikah beda agama, pengalaman mereka menunjukkan satu hal: keputusan spiritual adalah perjalanan individu. Sementara dalam rumah tangga, nilai seperti saling menghormati dan memberi teladan sering kali berbicara lebih kuat daripada sekadar perbedaan label agama.


