Jadigini.com – Industri hiburan Korea Selatan sedang menghadapi fase baru: transparansi finansial yang makin ketat. Setelah beberapa figur publik dikaitkan dengan dugaan pengelolaan pajak melalui agensi pribadi, perhatian kini meluas ke banyak nama besar.
Table Of Content
Model bisnis “one-person agency” atau agensi satu orang sebenarnya bukan hal asing. Skema ini kerap digunakan artis untuk mengelola pendapatan, kontrak iklan, hingga aktivitas kreatif secara mandiri. Namun belakangan, otoritas pajak disebut mulai menyoroti pola tersebut sebagai potensi celah penghindaran pajak.
Nama Park Shin Hye ikut disebut dalam laporan media Korea. Berdasarkan laporan Chosun Biz, aktris tersebut diketahui pernah mengoperasikan agensi pribadi bernama Ebenezer Entertainment pada periode 2015 hingga 2021.
Struktur Perusahaan dan Sorotan Publik
Menurut sumber industri pasar modal dan hiburan yang dikutip media, alamat terdaftar Ebenezer disebut sebagai alamat rumah Park, sehingga perusahaan itu disebut beroperasi layaknya paper company.
Isu ini menjadi sensitif karena sebelumnya Cha Eun Woo dari ASTRO sempat dituduh menggunakan metode serupa dan dikenai surcharge pajak sekitar ₩20 miliar KRW (sekitar $13,8 juta USD). Sejak saat itu, spekulasi mengenai praktik serupa meluas di kalangan selebritas.
Namun, agensi Park saat ini, Salt Entertainment, membantah keterkaitan apa pun dengan dugaan penghindaran pajak. Mereka menyatakan bahwa Ebenezer tidak pernah digunakan untuk penyelesaian honor aktivitas artis.
“We were completely unaware that Park served as CEO of Ebenezer until 2021. Naturally, no settlements to Park were made through that corporation.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pihak manajemen mengaku baru mengetahui keberadaan korporasi itu setelah melihat laporan donasi pada 2016, dan telah meminta agar perusahaan dibubarkan.
Namun dokumen registrasi bisnis tahun 2020 yang diperoleh media mencantumkan Park sebagai perwakilan perusahaan. Selain itu, perusahaan disebut tetap aktif hingga Maret 2021.
Klaim Internal dan Pertanyaan yang Muncul
Seorang sumber anonim industri menyatakan, “It is certain that Salt made settlements to Park through her one-person agency.” Jika klaim ini benar, potensi pelanggaran pajak bisa saja diperiksa lebih lanjut. Namun hingga kini belum ada pengumuman resmi mengenai investigasi terhadap Park Shin Hye.
Kontroversi ini juga mengingatkan publik pada kasus aktor Kim Seon Ho pada 2024, yang saat itu masih berada di bawah Salt Entertainment sebelum bergabung dengan Fantagio. Seorang insider bahkan mempertanyakan konsistensi manajemen:
“It’s somewhat difficult to understand how a company that was aware of Kim Seon Ho’s one-person agency, which operated for just about a year, could claim not to know about Park Shin Hye’s case, which lasted for a much longer period.”
Registrasi yang Terlambat dan Regulasi Baru
Ebenezer disebut baru mendaftarkan diri sebagai Popular Culture and Arts Planning Business pada 19 Januari tahun ini—beberapa tahun setelah Park tidak lagi tercatat sebagai perwakilan perusahaan, dan setelah kasus Cha Eun Woo mencuat.
Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata sebelumnya memang mengadakan periode panduan nasional untuk mendorong perusahaan hiburan yang belum terdaftar agar mematuhi regulasi.
Perlu dicatat, hingga saat ini belum ada putusan hukum atau konfirmasi pelanggaran terhadap Park Shin Hye. Informasi yang beredar masih bersifat laporan media dan klaim sumber anonim.
Transparansi Jadi Kata Kunci
Kasus ini menunjukkan bagaimana model agensi pribadi yang dulu dianggap wajar kini berada di bawah mikroskop regulator. Bagi publik, isu ini bukan hanya tentang satu nama, melainkan tentang tata kelola industri hiburan secara keseluruhan.
Apakah ini sekadar administrasi yang terlambat? Atau bagian dari pola lama yang kini mulai dibongkar? Jawabannya mungkin akan bergantung pada langkah otoritas ke depan.
Satu hal yang jelas, era di mana pengelolaan finansial artis berjalan tanpa sorotan tampaknya telah berakhir.


