Jadigini.com – Di tengah hingar bingar dunia hiburan yang menuntut seorang figur publik untuk selalu tampil prima, ada satu skenario akhir yang seringkali menjadi harapan terdalam: sebuah kepulangan yang tenang, jauh dari sorot kamera, dan hanya dikelilingi oleh orang-orang terkasih. Sebuah penutup yang damai setelah perjalanan hidup yang penuh warna.
Skenario itulah yang agaknya menjadi babak penutup perjalanan hidup musisi berbakat, Oxavia Aldiano. Kabar duka yang menyelimuti industri musik Tanah Air pada Sabtu, 7 Maret 2026, bukan sekadar berita tentang kehilangan, melainkan sebuah refleksi tentang akhir sebuah perjuangan yang dijalani dengan luar biasa.
Sebuah Kepulangan, Bukan Kekalahan
Vidi Aldiano, yang selama ini dikenal sebagai pejuang kanker ginjal sejak tahun 2019, akhirnya berpulang ke rahmatullah. Perjuangannya yang gigih dan penuh semangat berakhir pada pukul 16.33 WIB. Namun, narasi yang mengiringi kepergiannya bukanlah tentang kekalahan melawan penyakit, melainkan tentang sebuah kepulangan yang telah diterima dengan lapang dada oleh semua yang mencintainya.
Kabar ini pertama kali tersiar bukan melalui siaran pers resmi yang kaku, melainkan lewat sentuhan personal dari lingkar terdekatnya. Adik ipar Vidi, Devina Deascal, membagikan kabar tersebut melalui unggahan Insta Stories, mengonfirmasi waktu dan tempat sang musisi mengembuskan napas terakhirnya.
“Telah berpulang ke rahmatullah Oxavia Aldiano pada hari Sabtu, 7 Maret 2026, pukul 16.33 di kediamanya,” tulis Devina, memberikan gambaran awal tentang momen yang begitu privat dan intim tersebut.
Detik-detik Terakhir di Ruang Paling Pribadi
Konfirmasi lebih dalam datang dari sang ayah, Harry Kiss, yang menguatkan betapa momen terakhir Vidi adalah sebuah potret keluarga yang utuh. Melalui pesan singkat kepada awak media, ia menegaskan bahwa putra sulungnya tidak sendirian saat menghadapi gerbang perpisahan.
Vidi wafat di rumah, sebuah ruang yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya, dan momen itu disaksikan oleh seluruh keluarga besar. Pilihan kata yang digunakan sang ayah, “ikhlas akan kepergiannya,” mengandung makna yang begitu dalam. Ini bukan sekadar pasrah, melainkan sebuah penerimaan tulus bahwa perjalanan Vidi di dunia telah usai dan kini saatnya ia kembali kepada Sang Pencipta dalam damai.
Momen terakhirnya di rumah, bukan di rumah sakit, di dampingi keluarga yang ikhlas, menjadi sebuah penutup yang humanis. Ini seolah menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap panggung, Vidi Aldiano adalah seorang anak, kakak, dan bagian tak terpisahkan dari sebuah keluarga yang mencintainya hingga napas terakhir.


