Jadigini.com – Bulan suci seringkali menjadi kaca pembesar; kebahagiaan terasa lebih melimpah, namun kehilangan terasa berkali-kali lipat lebih menghunjam. Ruang kosong yang ditinggalkan orang terkasih seolah menjadi lebih nyata di antara riuh tawa keluarga saat berbuka atau heningnya santap sahur. Inilah realitas yang kini dihadapi oleh Ajie Darmaji, yang menjalani Ramadan pertamanya tanpa kehadiran sang istri tercinta.
Bagi dunia luar, seorang ayah dan kepala keluarga seringkali diharapkan menjadi pilar yang tak tergoyahkan. Namun di balik layar, ada hati manusia yang sama rapuhnya dengan yang lain. Hal ini diakui secara jujur oleh Ajie, yang harus menavigasi duka mendalam sembari menjadi mercusuar bagi anak-anaknya.
Tembok Ketegaran yang Dibangun Demi Anak
Ada pertunjukan sunyi yang harus dimainkan setiap hari. Sebuah peran di mana kesedihan ditekan dalam-dalam agar tak terlihat oleh mata polos anak-anak. Ajie Darmaji memahami betul bahwa energinya kini harus tercurah untuk menjaga mental buah hatinya.
“Saya kuat-kuatin saja, tegar-tegarin di depan anak,” ungkapnya, sebuah kalimat yang mewakili perjuangan banyak orang tua tunggal di luar sana. Tuntutan untuk terlihat kokoh ini menjadi sebuah dilema. Di satu sisi, ia ingin melindungi anak-anak dari duka yang lebih dalam. Di sisi lain, ia harus berdamai dengan kerapuhannya sendiri.
“Padahal nge-drop, rapuh… kita tetap merasakan kesepian,” tutur Ajie. Pengakuannya ini membuka tabir bahwa di balik figur seorang ayah yang tegar, ada ruang untuk merasa hancur dan sepi, sebuah validasi emosi yang sangat manusiawi.
Kenangan di Meja Makan yang Tak Pernah Padam
Jika ada satu momen yang paling menguji ketegaran, itu adalah saat-saat rutin yang kini terasa berbeda. Meja makan, yang dulu menjadi pusat kehangatan keluarga, kini menyimpan kekosongan yang nyata. Ajie mengenang bagaimana almarhumah istrinya selalu menjadi jantung dari setiap momen makan bersama, terutama saat sahur dan berbuka.
Pertanyaan sederhana seperti, “Mau makan apa Pa, mau makan apa De…” kini menjadi gema kenangan yang paling dirindukan. Sosok sang istri yang selalu sigap di dapur, memastikan semua orang terurus, meninggalkan jejak yang tak tergantikan.
“Di tahun ini ada yang berbeda, rasa masakan kita, terus kebersamaan kayak gitu kan, satu gak ada. Jadi ada yang pincanglah kayak gitu karena gak ada almarhumah,” pungkasnya. Kehilangan ini bukan hanya tentang absennya satu orang, tetapi tentang hilangnya sebuah harmoni, sebuah rasa yang membuat rumah terasa utuh. Perjuangan Ajie adalah cerminan dari sebuah cinta yang terus hidup dalam kenangan, di tengah duka yang coba ia rangkul hari demi hari.


