Jadigini.com – Momen Lebaran seringkali menjadi potret kehangatan keluarga yang utuh. Namun, bagi anak-anak dari orang tua yang telah berpisah, Hari Raya bisa menjadi sebuah persimpangan yang rumit. Di antara dua rumah, dua tradisi, dan dua keluarga besar, ada potensi perasaan terbelah yang membayangi. Logistik menjadi tantangan, dan ego orang tua bisa saja menjadi penghalang utama kebahagiaan anak. Fenomena ini bukan hal baru, tapi selalu ada cerita yang berhasil mendobrak stigma tersebut.
Kisah Ben Kasyafani dan Marshanda dalam merayakan Idulfitri bersama putri mereka, Sienna, menjadi contoh nyata bagaimana kedewasaan dan komunikasi mampu mengubah potensi drama menjadi harmoni. Alih-alih berebut waktu, mereka justru membangun sebuah sistem yang berpusat penuh pada kenyamanan sang anak.
Komunikasi Jadi Fondasi Utama
Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa begitu akur? Ben Kasyafani secara lugas menjawabnya: komunikasi dan koordinasi. Ia menegaskan bahwa sebelum Lebaran tiba, diskusi dengan Marshanda atau yang akrab disapa Caca, sudah menjadi rutinitas wajib. Mereka saling mengabarkan agenda keluarga masing-masing untuk menemukan titik tengah terbaik.
“Koordinasi sama Caca ada acara di mana, sejauh ini nggak pernah ada masalah,” jelas Ben saat ditemui di Jakarta Selatan. Kalimat sederhana ini menyiratkan sebuah fondasi yang kokoh. Tidak ada asumsi, tidak ada keputusan sepihak. Semua dibicarakan demi memastikan Sienna bisa menikmati momen bersama kedua keluarga tanpa beban.
Fleksibilitas Mengalahkan Jadwal Kaku
Menariknya, meski sudah menjadi rutinitas tahunan, pembagian waktu mereka tidaklah kaku. Ada pemahaman mendalam bahwa kepentingan anak jauh lebih penting daripada sekadar tradisi atau jadwal yang sudah terpola. Tahun ini, misalnya, ada sedikit penyesuaian karena jadwal keluarga yang berbenturan.
“Lebaran biasanya hari pertama di rumahku, habis itu baru hari kedua baru bareng sama Caca. Kita lagi atur karena kebetulan ada keluarga di sini yang terlalu bentrok jadwalnya tahun ini,” ungkap Ben.
Tahun ini, Sienna dijadwalkan merayakan hari pertama Lebaran bersama Marshanda. Fleksibilitas inilah yang menjadi bukti nyata bahwa prioritas utama mereka adalah memastikan Sienna mendapatkan pengalaman Lebaran yang adil dan membahagiakan. Pembagian waktu ini bukan lagi soal “jatah” ayah atau ibu, melainkan tentang bagaimana Sienna bisa merasakan cinta dari kedua belah pihak secara maksimal.
Pada akhirnya, apa yang ditunjukkan oleh Ben dan Marshanda adalah sebuah pelajaran berharga tentang co-parenting. Perpisahan orang tua tidak harus berarti perpisahan anak dari salah satu figur. Dengan menyingkirkan ego dan menempatkan anak sebagai pusat semesta, sebuah “keluarga” dalam bentuk yang baru dan lebih luas tetap bisa terwujud, bahkan di momen sakral seperti Idulfitri. Sejauh ini, Ben menegaskan pendekatannya bersama Marshanda selalu berhasil. “Nggak pernah ada masalah,” pungkasnya.


