jadigini.com – Kisah co-parenting di kalangan figur publik sering kali digambarkan sebagai potret idealisme modern: dua insan yang berpisah namun tetap kompak demi anak. Namun, realitas sering kali lebih kompleks dari sekadar unggahan foto kebersamaan. Dinamika pasca-perceraian yang tadinya hanya milik berdua bisa meluas menjadi urusan yang melibatkan lingkar terdekat, termasuk keluarga besar. Inilah yang tampaknya sedang terjadi pada Rachel Vennya dan mantan suaminya, Niko Al Hakim alias Okin.
Sebuah konflik yang kembali memanas di antara keduanya kini memasuki babak baru, di mana panggungnya bukan lagi hanya milik mereka. Para ibu dari kedua belah pihak kini ikut “turun gunung” ke arena media sosial, menampilkan dua respons yang sangat kontras dan menarik untuk dianalisis.
Saat Ibu Turun Tangan: Curahan Hati vs Sikap Hati-Hati
Di satu sisi, ada suara hati seorang ibu yang tak lagi sanggup menahan rasa kecewanya. Ibunda Rachel Vennya, Vien Tasman, melalui akun Instagram @vienstasman, secara terbuka mengungkapkan perasaannya. Ia mengaku terpukul melihat putrinya kembali disakiti oleh orang yang pernah disayangi. Unggahannya terasa sangat personal, menyiratkan adanya akumulasi kekecewaan yang selama ini coba ia pendam demi permintaan sang anak.
Kalimat seperti “Ibu mana yang kuat melihat anaknya disakiti” dan “kebaikan yang pernah kamu kasih… dibalas dengan air tuba” menjadi semacam pukulan telak yang menunjukkan bahwa kesabarannya telah mencapai batas. Ini adalah cerminan sikap protektif seorang ibu yang merasa garis batas telah dilewati.
Sementara itu, dari pihak Okin, sang ibu melalui akun TikTok @zerenity2024 menunjukkan pendekatan yang jauh lebih diplomatis. Alih-alih melontarkan pembelaan atau serangan balik, ia memilih posisi netral. Dengan menyatakan dirinya sedang “memantau” dan tidak ingin “menghakimi sesuatu yang belum paham”, ia seolah berusaha mendinginkan suasana. Sikap “wait and see” ini bisa diartikan sebagai upaya untuk tidak memperkeruh keadaan atau mungkin sebuah strategi untuk mengumpulkan semua fakta sebelum mengambil sikap.
Lebih dari Sekadar Drama Keluarga
Intervensi dari kedua ibu ini mengubah narasi konflik Rachel dan Okin dari sekadar masalah mantan pasangan menjadi sebuah dinamika keluarga besar yang tersaji di panggung publik. Di sinilah letak kompleksitasnya. Bagi publik, ini mungkin hiburan. Namun bagi mereka yang terlibat, setiap unggahan, komentar, dan reaksi menjadi bagian dari tekanan psikologis yang nyata.
Fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa dalam era digital, batasan antara ruang privat dan konsumsi publik menjadi semakin kabur, terutama bagi mereka yang hidupnya tak lepas dari sorotan kamera dan jutaan pengikut. Pada akhirnya, setiap pihak memiliki hak untuk bersuara, namun publik hanya bisa berharap agar penyelesaian terbaik dapat ditemukan, terutama demi kesejahteraan anak-anak yang berada di tengah pusaran konflik tersebut.


