Menteri Fadli Zon: Film India Lebih Jago Diplomasi Ketimbang Politisi?
Jadigini.com – Jauh sebelum kita mengenal sebuah negara lewat berita politik atau data ekonominya, kita sering kali lebih dulu jatuh cinta pada budayanya. Entah itu lewat alunan musik K-Pop yang membuat dunia bergoyang, resep pasta Italia yang diwariskan turun-temurun, atau lewat drama kolosal yang diputar di layar lebar. Tanpa disadari, produk budaya populer seperti film telah menjadi diplomat paling sunyi namun paling efektif di panggung dunia.
Table Of Content
Fenomena inilah yang tampaknya menjadi sorotan tajam Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon. Dalam sebuah kesempatan, ia menyoroti bagaimana sebuah karya sinema bisa menjadi jembatan yang jauh lebih kokoh dalam menghubungkan dua negara, melampaui retorika formal para pejabat.
Mengapa Film Jadi Jembatan Budaya yang Efektif?
Menurut Fadli Zon, kekuatan film terletak pada kemampuannya untuk “berbicara dengan sendirinya”. Sebuah film bukanlah presentasi data yang kaku, melainkan sebuah paket pengalaman multisensori yang berakar kuat pada budaya asalnya.
“Di dalam film terdapat beragam unsur seperti bahasa, sastra, tarian, akting, musik, hingga kuliner dan fesyen,” jelas Fadli usai menyaksikan pemutaran film “Taj Mahal: An Eternal Love Story” di Jakarta.
Semua elemen tersebut dirangkai menjadi sebuah cerita yang menyentuh emosi penonton. Kita bisa ikut merasakan kelezatan makanan yang disajikan, memahami konflik sosial yang terjadi, bahkan ikut menari mengikuti irama musiknya. Inilah yang membuat film menjadi medium perkenalan budaya yang sangat personal dan mendalam. “Jadi film atau bioskop adalah jembatan bagi setiap budaya. Dan saya pikir itu sangat penting,” tuturnya.
Studi Kasus: “Taj Mahal” dan Kekuatan Narasi Universal
“Ini adalah satu film yang penuh dengan sejarah, pesan-pesan moral, cinta, kasih sayang, yang juga menjembatani saya kira dengan Indonesia,” imbuh Fadli.
Kisah cinta, pengorbanan, dan keindahan arsitektur adalah bahasa universal yang tidak memerlukan penerjemah. Melalui film semacam ini, penonton Indonesia tidak hanya melihat India sebagai negara dengan ekonomi yang berkembang pesat, tetapi juga sebagai bangsa dengan peradaban kaya dan kisah-kisah humanis yang relevan bagi siapa saja.
Fadli mencontohkan langsung lewat film garapan sutradara Akbar Khan, “Taj Mahal: An Eternal Love Story”. Film ini bukan sekadar tontonan visual yang megah, tetapi sebuah mesin diplomasi yang bekerja lewat narasi cinta abadi. Kisah nyata di baliknya melahirkan sebuah monumen warisan dunia yang dikagumi jutaan orang.
Peluang bagi Indonesia dan Alternatif Tontonan
Kehadiran film-film internasional seperti dari India, yang menurut Fadli masih tergolong jarang diputar di bioskop Tanah Air, dilihatnya sebagai sebuah peluang. Ini bukan hanya tentang memberikan alternatif tontonan bagi masyarakat, tetapi juga tentang proses saling belajar dan memahami.
“Banyak kesamaan, kita juga mempunyai hubungan yang baik dengan India, secara budaya juga dekat. Dan ini bisa menjadi salah satu jembatan diplomasi kita dengan India,” ujar Fadli.
Pada akhirnya, pernyataan ini menjadi pengingat bahwa diplomasi tidak selalu terjadi di ruang rapat berpendingin udara. Terkadang, diplomasi terbaik justru terjadi di dalam bioskop yang gelap, di mana hati penonton dari berbagai negara terhubung oleh satu cerita yang sama.


