jadigini.com – Tren di media sosial datang dan pergi secepat kilat. Ada yang sekadar lewat, ada pula yang berhasil meninggalkan jejak lebih dalam. Salah satu yang terbaru adalah ‘What Were You Like in the 90s’, sebuah tantangan sederhana yang mengajak penggunanya untuk memamerkan potret lawas mereka dari era tiga dekade silam.
Di antara riuhnya partisipasi publik, ada satu unggahan yang dampaknya terasa berbeda. Bukan cuma sekadar pamer foto jadul, tapi sukses memicu ledakan memori kolektif satu generasi. Pelakunya adalah Marshanda.
Lewat sebuah video singkat yang dibuka dengan pertanyaan, “Ibu, what were you like in the 90’s?”, Marshanda membawa audiensnya melintasi waktu. Namun, yang membuat unggahannya begitu spesial bukanlah sekadar foto masa kecilnya yang menggemaskan, melainkan cuplikan perannya sebagai Lala dalam sinetron Bidadari. Di sinilah kunci pembuka portal nostalgia itu berada.
Bukan Sekadar Foto, Tapi Kunci Pembuka ‘Core Memory’
Bagi generasi yang tumbuh di awal tahun 2000-an, Bidadari bukan sekadar tontonan. Sinetron yang tayang di RCTI itu adalah bagian dari ritual sore hari, sebuah cerita yang menemani masa kecil. Sosok Lala, seorang gadis baik hati yang selalu ditolong oleh ibu peri, menjadi idola dan teman imajiner bagi jutaan anak-anak pada masanya.
Melihat kembali potret Marshanda sebagai Lala secara efektif mengaktifkan kembali core memory atau ingatan inti yang terkubur dalam benak banyak orang. Komentar dari komika Praz Teguh adalah bukti paling sahih. “Hai Lala, pacarku waktu SD,” tulisnya. Sebuah kalimat singkat yang mewakili perasaan banyak pria dewasa yang dulu mengidolakan sosok Lala dari layar kaca.
Respons serupa datang dari akun lain yang mengaku, “Aku sampai nyamperin ke lokasi syuting kamu loh waktu itu Ca.” Komentar-komentar ini menunjukkan bahwa Marshanda, khususnya perannya sebagai Lala, bukan lagi sekadar seorang aktris, melainkan bagian tak terpisahkan dari sejarah personal banyak orang.
Efek Domino Nostalgia yang Meluas
Marshanda tentu tidak sendirian. Tren ini juga diramaikan oleh sederet figur publik lain yang potret masa mudanya turut membangkitkan kenangan. Sebut saja Chef Juna, Sophia Latjuba, Nadya Hutagalung, Thomas Nawilis, Icha Jikustik, hingga David Bayu. Masing-masing dari mereka memiliki basis penggemar dan cerita masanya sendiri.
Namun, unggahan Marshanda memiliki daya ledak yang unik karena terhubung langsung dengan memori masa kanak-kanak yang universal bagi audiens Indonesia. Ini membuktikan bahwa kekuatan seorang figur publik kadang tidak diukur dari popularitas saat ini, tetapi dari seberapa dalam jejak yang mereka tinggalkan di masa lalu.
Pada akhirnya, tren ini menjadi pengingat bahwa di balik hiruk pikuk dunia digital, ada kerinduan yang sama terhadap masa lalu yang lebih sederhana. Dan Marshanda, dengan satu video singkat, berhasil menjadi konduktor sempurna untuk gelombang nostalgia massal tersebut.


