Jadigini.com – Di balik gemerlap industri K-pop, ada sistem pelatihan ketat yang sering disebut sebagai “pabrik bintang”. Anak-anak dan remaja direkrut sejak usia sangat muda, digembleng dengan jadwal padat, serta dievaluasi hampir setiap hari. Bagi sebagian orang, sistem ini melahirkan performer kelas dunia. Namun bagi sebagian lainnya, fase tersebut menyisakan luka yang tidak mudah hilang.
Table Of Content
Pengakuan terbaru datang dari EJAE, penyanyi-penulis lagu yang dikenal luas sebagai suara di balik proyek K-Pop Demon Hunters. Dalam wawancara di podcast And The Writer Is…, ia berbicara terbuka tentang pengalaman masa kecilnya saat menjadi trainee di SM Entertainment.
Ditimbang di Depan Umum Sejak Usia Belia
EJAE mengungkap bahwa ia masih menjalani terapi untuk memproses pengalaman yang dialaminya ketika berusia 11 hingga 13 tahun. Salah satu momen yang paling membekas adalah praktik penimbangan berat badan secara terbuka, dilakukan di depan trainee lain, termasuk trainee laki-laki.
Ia menceritakan, “You’re very impressionable when you’re a teenager. You know when girls go through puberty. You’re very sensitive and a lot is about your physical appearance. Your weight and stuff like that. And now I get it, but you don’t know as a kid, that when you’re in a business like entertainment, you’re always critiqued. And you’re critiqued in a way that’s too blunt as a kid. There’s not much filter in how the critiquing went. Literally every week, we’d weigh ourselves in front of everyone. And they’d call out the weight. And I was tall… I was like 5 6′ or 7 as a seventh grader. I was taller than the guys. So I weighed more than the guys. And girls have baby fat, we hold on to water weight, you know? We gain weight. And I remembered getting scolded for weighing a certain weight. And I was dancing a certain way, and I remember they said it felt heavy. And they said it’s because I was overweight.”
Di usia pra-remaja, ketika tubuh masih berkembang dan identitas diri belum terbentuk sepenuhnya, komentar seperti itu bisa meninggalkan dampak mendalam.
Kritik Fisik dan Standar Industri
Selain soal berat badan, EJAE juga mengingat bagaimana gaya menarinya disebut “too heavy” dan suaranya dianggap “ugly”. Pada masa itu, tren musik perempuan memang lebih mengutamakan nada tinggi dan warna vokal tertentu. Namun bagi anak yang masih mencari jati diri, penilaian keras tanpa filter menjadi tekanan tersendiri.
Industri hiburan, terutama K-pop, memang dikenal perfeksionis. Evaluasi rutin adalah bagian dari sistem. Namun perdebatan muncul ketika metode yang digunakan dinilai terlalu keras untuk anak-anak yang masih dalam masa pubertas.
Trauma yang Tak Otomatis Hilang
Kini, EJAE telah menjadi musisi dengan pengakuan internasional. Ironisnya, kesuksesan tidak serta-merta menghapus pengalaman masa lalu. Ia mengaku masih menjalani terapi untuk mengurai rasa malu dan tekanan yang dialami selama masa trainee.
Pengakuan ini membuka diskusi yang lebih luas tentang kesehatan mental di industri hiburan. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak artis yang berani berbicara soal terapi, burnout, dan tekanan standar tubuh. Transparansi seperti ini membantu publik memahami bahwa di balik performa panggung yang sempurna, ada proses emosional yang kompleks.
Kisah EJAE bukan sekadar cerita pribadi. Ia menjadi pengingat bahwa sistem pelatihan yang menghasilkan bintang global juga perlu dievaluasi dari sisi kemanusiaan. Bakat bisa diasah, disiplin bisa dibangun, tetapi harga diri dan kesehatan mental adalah fondasi yang tak kalah penting.


