Jadigini.com – Festival musik di bulan Ramadan belakangan ini menjelma jadi ruang temu unik antara hiburan, kebersamaan, dan ritme ibadah. Banyak musisi dihadapkan pada dilema klasik: bagaimana menjaga energi panggung ketika tubuh tidak mendapat asupan sepanjang hari. Di tengah tren itu, satu hal jadi penentu—apakah sebuah band memilih bermain aman, atau justru menjadikan keterbatasan sebagai bahan bakar pertunjukan.
Di titik inilah nama Barasuara relevan dibicarakan. Grup yang identik dengan penampilan eksplosif ini kembali naik panggung dalam suasana Ramadan, sebuah kondisi yang secara fisik jelas menantang. Terik cuaca siang hari, jadwal festival yang padat, serta kondisi puasa kerap dianggap sebagai kombinasi yang “rawan” bagi performa live.
Namun bagi Barasuara, panggung bukan sekadar soal kondisi ideal. Prinsip mereka sederhana: penonton sudah datang, maka energi harus dibayar lunas. Upaya ekstra pun dilakukan demi menjaga atmosfer tetap hidup, seolah keterbatasan tidak pernah ada.
Soal puasa dan performa, vokalis sekaligus gitaris Barasuara, Iga Massardi, mengakui tidak ada perlakuan khusus yang berlebihan. “Enggak ada masalah sih sebenarnya. Alhamdulillah kami juga sahur. Alhamdulillah berusaha istirahatnya cukup juga. Jadi enggak ada bedanya, cuma enggak minum saja,” ujarnya. Pernyataan ini memperlihatkan satu hal penting: kesiapan mental dan disiplin justru menjadi kunci utama.
Menariknya, atmosfer penonton justru melampaui dugaan. Kehadiran penggemar di KapanLagi Buka Bareng Festival 2026 terasa lebih padat dan bersemangat dibanding edisi sebelumnya. Situasi ini sempat di luar ekspektasi Barasuara, mengingat sebagian besar audiens masih menjalani puasa saat mereka tampil.
Alih-alih meredup, energi penonton justru menjadi “penyambung nyawa” di atas panggung. Respons spontan, nyanyian bersama, hingga sorak sorai membuat momen tersebut terasa epik bagi para personel. Bagi Barasuara, ini menjadi pengingat bahwa musik tetap punya daya lekat kuat, bahkan di tengah kondisi fisik yang terbatas.
KLBB Festival 2026 sendiri digelar di Stadion Madya GBK Senayan dan berlangsung selama dua hari. Hari pertama diisi deretan musisi lintas generasi dan genre, sementara hari kedua menghadirkan nama-nama besar yang menutup festival dengan skala lebih luas. Format ini membuat KLBB bukan sekadar konser, tapi juga perayaan kolektif menjelang waktu berbuka.
Pada akhirnya, cerita Barasuara di panggung Ramadan bukan tentang siapa yang tampil paling keras atau paling ramai. Ini soal komitmen pada penonton dan keberanian memberi “usaha 150 persen” ketika kondisi justru meminta kompromi. Sebuah pelajaran bahwa dalam musik, keterbatasan fisik tak selalu berarti batas kreativitas.


