Jadigini.com – Di tengah tren selebritas memamerkan mobil sport, jam tangan mewah, atau properti bernilai fantastis, ada juga yang memilih jalur berbeda. Hobi bisa menjadi cermin kepribadian—kadang sederhana, kadang tak terduga. Bagi sebagian orang, benda kecil justru menyimpan cerita besar.
Table Of Content
Itulah yang terjadi pada komedian senior Parto Patrio. Di balik citranya yang riang di layar kaca, ia ternyata menyimpan kegemaran yang tidak biasa: mengoleksi korek api.
Awalnya Sekadar Suka, Lalu Jadi Serius
Ketertarikan terhadap korek api ternyata bukan hal baru. Namun keputusan untuk benar-benar mengoleksi secara konsisten baru terjadi dalam satu dekade terakhir.
“Dari dulu sih sudah menyukai korek api, cuma mulai (koleksi) mungkin 5 atau 10 tahun lalu,” ungkap Parto Patrio di Gedung Trans TV, Sabtu (21/2).
Dari kebiasaan kecil itu, koleksinya berkembang pesat. Kini jumlahnya tak lagi hitungan puluhan, melainkan ratusan.
“Kurang lebih ada 700 pieces,” tuturnya.
Angka tersebut tentu bukan jumlah yang sedikit, apalagi untuk benda yang bagi sebagian orang dianggap remeh.
Dari Hard Rock Cafe hingga NBA
Menariknya, koleksi Parto bukan sekadar korek api biasa. Ia berburu seri-seri tematik yang punya nilai estetika dan cerita tersendiri. Ada edisi bertema Hard Rock Cafe, Elvis Presley, Tarzan, hingga NBA.
“Saya kadang suka lupa (harga), kebanyakan yang saya kumpulin itu macam-macam, ada yang seri-seri, Hard Rock Cafe, Elvis Presley, gitu-gitu, banyak, ada seri Tarzan, seri NBA,” lanjutnya.
Beberapa koleksinya berasal dari merek legendaris Zippo, yang memang dikenal memiliki banyak edisi terbatas.
Soal harga, Parto cukup terbuka. “Kalau Zippo sih bervariasi. Kalau saya bukan yang polos. Kalau yang polos paling Rp300.000 – Rp400.000 juga dapat. Cuma ada yang limited edition, dibuat cuma 1000 di seluruh dunia, itu yang mahal,” bebernya.
Edisi terbatas inilah yang sering kali menjadi incaran kolektor karena jumlah produksinya sangat terbatas secara global.
Drama Lelang Dini Hari
Mengoleksi item langka tentu tak selalu mudah. Parto mengaku kerap mengikuti sistem lelang online demi mendapatkan seri tertentu.
“Kadang saya dapatin Zippo itu nge-bid. Jadi ada lelang berakhir jam segini tanggal segini, jadi kita gede-gedean berani harga. Cuma saya kadang-kadang, misal terakhir nge-bid jam 3 pagi, nah mendekati jam 3 itu, jam 2.58 atau 2.59 saya sudah mulai masukin, cuma tetap saja gagal, banyak yang lebih dulu,” cerita Parto.
Momen-momen menjelang detik akhir lelang rupanya menjadi pengalaman tersendiri. Ia juga menyadari bahwa item yang dilelang biasanya memang tipe langka.
“Kalau ada yang jual (ready stock) ya sudah itu gampang, nggak ada ngebid karena yang dilelang itu mungkin tipe-tipe langka,” ujarnya.
Hobi Tanpa Alasan Besar
Ketika ditanya alasan di balik kegemarannya, jawabannya justru sederhana. Tidak ada filosofi mendalam atau motif investasi. Ia melakukannya murni karena suka.
Respons keluarga pun santai. “Mereka mah bodo amat, biasa saja sama hobi saya, mendukung nggak, melarang juga nggak,” pungkasnya.
Di sinilah letak pelajaran kecilnya. Hobi tidak selalu harus masuk akal bagi orang lain. Selama dilakukan dengan tanggung jawab, kegemaran seperti ini justru bisa menjadi ruang pribadi untuk menjaga kewarasan di tengah rutinitas padat.
Pada akhirnya, koleksi 700 korek api itu bukan sekadar benda. Ia adalah potongan cerita, nostalgia, dan kesenangan yang dikurasi secara personal—sesuatu yang mungkin tak terlihat megah, tetapi sangat bermakna bagi pemiliknya.


