Jadigini.com – Banyak aktor bermimpi menaklukkan Hollywood. Los Angeles dianggap sebagai pusat gravitasi industri film dunia—tempat karier dibangun dan citra dibesarkan. Namun di balik gemerlap itu, ada konsekuensi yang tak selalu terlihat: tekanan, eksposur berlebihan, dan ritme hidup yang tak pernah benar-benar melambat.
Table Of Content
Di tengah narasi tersebut, Chris Hemsworth justru mengambil langkah yang bertolak belakang. Alih-alih semakin mendekat ke pusat industri, ia memilih menjauh.
Mengapa LA Tak Lagi Menarik?
Dalam podcast SmartLess, bintang “Thor” itu menyebut kepindahannya dari Los Angeles sebagai “greatest decision” dalam hidupnya.
Ia mengaku momen itu terjadi sekitar kelahiran anak kembarnya. “It was right around the time my boys were born, and it was just, we kind of were set up in LA and not enjoying it, you know? Like nothing was shooting there. We were filming kind of everywhere else.”
Selain faktor pekerjaan yang tak lagi terpusat di LA, ada hal lain yang mengganggunya. “And then … you’d come home and paparazzi and all the sort of trappings of, you know, living in that space.”
Kehidupan dengan sorotan kamera yang konstan, menurutnya, bukanlah lingkungan ideal untuk membesarkan anak.
Kembali ke Akar, Bukan Mundur
Hemsworth dan istrinya, aktris Elsa Pataky, akhirnya memutuskan pindah ke sebuah peternakan luas di Australia. Di sana, hidup terasa berbeda.
“You know, when you come back from work, you wanna go on a holiday? Like coming home for me is – it feels like a holiday. We have a big farm, horses, motorbikes and surf.”
Pernyataan itu menggambarkan kontras tajam antara dua dunia: satu penuh karpet merah dan lampu kilat, satu lagi diisi suara ombak, kuda, dan motor trail.
Anak-Anak dan Realitas Superhero
Menariknya, kepindahan ini juga berkaitan dengan perspektif keluarga. Dalam pemutaran perdana film “Crime 101” di Los Angeles, Hemsworth sempat berbagi cerita tentang reaksi anak-anaknya terhadap kariernya.
“They don’t care. They don’t care at all,” candanya.
Ia menambahkan, “I reckon when they first realized I was Thor, they thought it was really cool. And then they realized they couldn’t fly, and they thought it was less cool.”
Di mata publik, ia adalah dewa petir. Namun di rumah, ia tetap ayah biasa yang tidak bisa terbang.


