Jadigini.com – Di era digital, perseteruan hukum tak lagi terbatas di ruang sidang yang sakral dan tertutup. Panggung baru telah tercipta: pengadilan opini publik. Melalui unggahan video, podcast, atau utas di media sosial, narasi bisa dibangun dan simpati bisa diraih jauh sebelum hakim mengetuk palu. Fenomena inilah yang tampaknya sedang mewarnai babak baru dalam sengketa antara Denada dan Ressa Rizky Rossano.
Table Of Content
Ketika satu pihak memilih untuk membuka semua kartunya di hadapan publik, pihak lain justru mengambil langkah yang berkebalikan. Mereka memilih diam, menahan diri, dan menyimpan amunisi untuk arena yang sesungguhnya.
Klarifikasi 1,5 Jam vs. Strategi Senyap di Pengadilan
Beberapa waktu lalu, Denada merilis sebuah pernyataan panjang dalam format video berdurasi satu setengah jam. Sebuah langkah yang jelas ditujukan untuk menjernihkan namanya dan memaparkan versinya kepada masyarakat luas. Namun, respons yang ditunggu-tunggu dari kubu Ressa Rossano tak kunjung muncul dalam format serupa.
Alih-alih menggelar konferensi pers balasan atau membuat video tandingan, tim hukum Ressa Rossano memilih jalur senyap yang lebih formal. Mereka secara resmi telah mengirimkan replik, atau jawaban hukum, ke Pengadilan Negeri Banyuwangi. Sebuah penegasan bahwa pertarungan argumen dan bukti hanya akan mereka lakukan di dalam koridor hukum yang berlaku.
“Jadi repliknya sudah kita jawab ya, tadi sudah kita kirimkan,” ujar Andika, kuasa hukum Ressa Rossano, pada Selasa (17/3).
Bukan Mengulur Waktu, tapi Fokus pada Pembuktian
Langkah diam ini sempat memunculkan spekulasi bahwa pihak Ressa sengaja mengulur-ulur waktu. Namun, Andika dengan tegas membantah tudingan tersebut. Menurutnya, penundaan yang sempat terjadi murni karena masalah teknis dan jadwal pekerjaan lain, bukan sebuah upaya untuk menghindari proses persidangan.
“Jadi kita tidak ada niatan untuk menghambat proses persidangan, tidak ada,” tegasnya. Tim hukum Ressa Rossano bahkan disebut telah menyelesaikan urusan replik dalam waktu satu minggu sebagai bukti komitmen mereka.
Strategi ini menunjukkan bahwa fokus utama mereka bukanlah memenangkan perdebatan di media sosial, melainkan mempersiapkan pembuktian yang solid di hadapan majelis hakim.
Mengapa Memilih Bungkam? Panggung Sidang Jadi Arena Utama
Pilihan untuk tidak menanggapi pernyataan publik Denada adalah sebuah strategi yang sangat sadar. Bagi tim hukum Ressa Rossano, semua cerita, klaim, dan alat bukti yang telah diungkap Denada di podcast-nya akan dijawab pada waktunya, yakni dalam sesi pembuktian di pengadilan.
“Terkait apa yang sudah diceritakan, ditunjukkan semua alat buktinya, nanti kita akan buktikan di persidangan,” jelas Andika.
Langkah ini bisa dibaca sebagai upaya untuk menjaga agar argumen hukum tidak terkontaminasi oleh opini publik dan menghindari perang kata-kata yang tidak produktif. Mereka percaya bahwa kebenaran materiil akan terungkap secara transparan saat semua bukti diuji secara resmi. Panggung kini telah terbagi: satu di ranah publik, satu lagi menanti di ruang sidang.
“Nanti tinggal tunggu pembuktiannya saja,” pungkas Andika, memberikan sinyal bahwa babak paling krusial dari perseteruan ini baru akan dimulai.


