Jadigini.com – Setiap jelang akhir Ramadan, ada satu momen yang menyedot perhatian hampir seluruh negeri: sidang isbat. Debat ringan di ruang keluarga, tebak-tebakan di grup WhatsApp, hingga penantian khusyuk di depan layar televisi menjadi ritual tahunan untuk memastikan kapan Lebaran tiba. Euforia kolektif ini begitu besar, hingga tak jarang mampu menenggelamkan agenda-agenda personal yang tak kalah penting, bahkan untuk seorang diva sekelas Kris Dayanti.
Di tengah hiruk pikuk penentuan Hari Raya Idulfitri, terselip sebuah momen sakral yang nyaris terlewatkan olehnya. Tepat pada 20 Maret, Kris Dayanti dan Raul Lemos semestinya merayakan 15 tahun perjalanan pernikahan mereka. Namun, fokus yang tercurah pada sidang isbat membuat hari spesial itu sempat terlupakan.
Terlupakan di Tengah Euforia Nasional
Mungkin terdengar janggal, bagaimana bisa sebuah perayaan belasan tahun pernikahan terlupa? Kris Dayanti, dengan jujur, mengakui bahwa pikirannya saat itu sepenuhnya tersita oleh kepastian hari Lebaran. Sebuah pengakuan yang terasa sangat humanis dan relevan bagi banyak orang.
“Iya, iya anniversary itu. Tapi karena kemarin mikirin sidang isbat, jadi itu lupa setengah hari,” ungkapnya. “Karena kan mikirin isbat-isbat, tanggal 20 atau 21, 20 atau 21, jadi nggak kepikiran kalau 20 Maret itu anniversary kita,” lanjut perempuan yang akrab disapa KD itu.
Pengakuannya bukan sekadar cerita lucu, melainkan cerminan bagaimana sebuah peristiwa nasional mampu menjadi prioritas, menggeser sejenak perayaan yang bersifat pribadi.
Definisi ‘Kado’ yang Telah Berubah
Setelah 15 tahun bersama, ekspektasi terhadap perayaan agaknya telah bergeser. Tak ada lagi tuntutan perayaan mewah atau kado mahal yang menjadi tolok ukur kebahagiaan. Bagi KD, makna anniversary kini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih subtil dan mendalam.
Ketika ditanya soal hadiah, jawabannya singkat namun sarat makna. “Suami datang tepat waktu itu sudah (kado) ya rasanya,” ujarnya. Sebuah kalimat yang menyiratkan bahwa kehadiran dan kebersamaan kini menjadi hadiah paling berharga, melampaui nilai materi apa pun.
Di momen yang sama, ia justru menemukan berkah lain. Fakta bahwa hari jadinya jatuh di dalam bulan suci Ramadan dianggap sebagai anugerah tersendiri. “Jadi kita bersyukur banget anniversary kita ada di dalam bulan suci Ramadan. Amin, amin, amin ya rabbal alamin,” tuturnya penuh syukur.
Momen ini menjadi pengingat bahwa dalam sebuah hubungan jangka panjang, esensi perayaan bukanlah tentang tanggal atau kemeriahan, melainkan tentang rasa syukur dan refleksi. Doa sederhana yang ia panjatkan pun selaras dengan semangat Ramadan dan Lebaran. “Doa, semoga Allah memaafkan dan mengenolkan lagi kita menjadi manusia yang fitri. Amin,” tutupnya.
Pada akhirnya, anniversary yang sempat terlupakan itu justru menjadi lebih bermakna—dirayakan bukan dengan pesta, melainkan dengan kesederhanaan, doa, dan rasa syukur yang tulus di bulan yang penuh ampunan.


