Jadigini.com – Menjadi figur publik di industri hiburan sekaligus mengemban tanggung jawab spiritual di tengah masyarakat adalah dua dunia yang sering kali dianggap berseberangan. Namun, bagi sebagian orang, keduanya justru menjadi jalan untuk saling melengkapi. Inilah yang dirasakan aktor dan penyanyi Syakir Daulay, yang kembali dipercaya memimpin jemaah sebagai imam salat Idulfitri untuk ketiga kalinya.
Table Of Content
Perjalanan ini ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Di balik citranya yang kini lebih mantap berdiri di depan ribuan orang, tersimpan cerita tentang keraguan besar dan sebuah kesalahan yang tak terlupakan.
Awalnya Takut, Lalu Nurut Perintah Guru
Sebelum dikenal sebagai imam salat Id langganan, Syakir mengaku pernah berada di titik tidak percaya diri yang luar biasa. Saat pertama kali amanah besar itu datang, respons pertamanya adalah menolak karena merasa belum pantas.
“Syakir juga awalnya gak berani gitu,” akunya. Namun, dorongan kuat datang dari para guru dan ulama yang menunjuknya langsung. Di sinilah ia dihadapkan pada sebuah dilema: antara mengikuti rasa adab untuk menolak karena merasa tak layak, atau menaati perintah dari orang yang dihormatinya.
Ia pun memegang sebuah prinsip yang diajarkan kepadanya. “Jadi ada kalimat tuh gini: ‘Imtisalul amr khairun min sulukil adab’. Jadi di atasnya adab itu adalah ya nurut sama perintah gitu,” jelas Syakir. Prinsip inilah yang akhirnya membuatnya memberanikan diri, melihatnya bukan sebagai ajang pamer, melainkan sebagai bentuk ketaatan.
Momen Gugup yang Jadi Pelajaran Abadi
Proses belajar menjadi imam tentu penuh tantangan, mulai dari memperdalam hafalan Al-Qur’an hingga memahami setiap tata cara dengan presisi. Dalam proses inilah Syakir mengalami sebuah insiden yang justru menjadi titik balik dalam perjalanannya.
Ia mengenang momen saat memimpin salat Id untuk pertama kalinya. Di tengah ketegangan dan statusnya yang masih belajar, ia melakukan kesalahan fatal: lupa jumlah takbir.
“Sempat awal-awal salat Idul Fitri… sempat lupa takbir tujuh kali sama lima kalinya,” kenang Syakir. Kesalahan di depan banyak jemaah itu bisa jadi momen yang memalukan, tetapi baginya, itu adalah pelajaran terbaik. “Tapi gara-gara itu akhirnya setelah itu nggak pernah lupa lagi. Dan akhirnya jadinya ngingetin jemaah juga kan,” tambahnya. Blunder tersebut menempa mentalnya, membuatnya lebih teliti dan kini jauh lebih santai.
Rem Kehidupan di Tengah Gemerlap Panggung
Bagi Syakir, perannya sebagai imam tahunan bukan sekadar ritual ibadah. Di tengah kesibukannya di dunia hiburan yang penuh distraksi, tanggung jawab ini berfungsi sebagai “rem” pribadi.
Pengalaman ini memaksanya untuk terus introspeksi diri. “Oh, kalau sudah mulai belajar jadi imam segala macam, ya berarti kitanya juga harus tambah lebih baik,” ujarnya. Amanah tersebut menjadi pengingat konstan untuk menyelaraskan perilaku sehari-hari dengan peran spiritual yang diembannya.
Lebih dari sekadar memimpin barisan salat, Syakir merasa belajar tentang kepemimpinan dalam arti yang lebih luas. Baginya, mampu mengimami orang dalam beribadah adalah latihan untuk bisa memimpin diri sendiri dalam menjalani kehidupan. “Jadi sebenarnya sambil jadi imam kan, sambil kita memantaskan diri jadi imam dalam hidup juga,” pungkasnya.


