Jadigini.com – Di era ekonomi kreator, batasan antara berbagi momen personal dan menciptakan konten komersial menjadi semakin kabur. Setiap kejadian, baik suka maupun duka, berpotensi menjadi materi unggahan. Namun, sebuah garis tipis bernama empati dan etika menjadi penentu apakah sebuah konten akan diterima sebagai inspirasi atau justru menuai hujatan. Sebuah insiden yang menyeret nama selebgram Aghnia Punjabi baru-baru ini menjadi pengingat keras tentang di mana garis itu berada.
Table Of Content
Niat Baik yang Berujung Kecaman Keras
Kabar duka atas kepergian Vidi Aldiano menyisakan kesedihan mendalam, tidak hanya bagi keluarga tetapi juga para sahabat dan penggemarnya. Di tengah suasana berkabung, sebuah unggahan promosi dari Aghnia Punjabi memicu kontroversi. Aghnia mencoba mengaitkan kepergian Vidi dengan pesan tentang pentingnya menjaga kesehatan, yang kemudian disambungkan ke sebuah produk yang ia promosikan.
Niat yang mungkin dimaksudkan sebagai pengingat itu justru diterima sebagai tindakan yang tidak pantas dan eksploitatif. Aktris Fita Anggriani, salah satu sahabat mendiang Vidi, tidak bisa menahan amarahnya. Melalui Instagram Story, Fita meluapkan kekesalannya secara lugas dan tanpa filter.
“Niat sebagai pengingat tentang pentingnya kesehatan dan merawat diri” PRETTTTTTTT,” tulis Fita, menyindir alasan yang mungkin digunakan. “Endorse mah endorse ajeh ga usah embel embel pake contoh vidi meninggal mbakeee ! Toll ! Otak lu dimaneeee!” lanjutnya dengan amarah yang terasa jelas.
Memahami Konsep “Bridging” yang Jadi Bumerang
Keresahan serupa juga disuarakan oleh Reza Chandika, sahabat Vidi yang lain. Reza memberikan konteks yang lebih dalam mengenai praktik yang dilakukan Aghnia. Ia menyebutnya sebagai tindakan “bridging” atau membuat jembatan penghubung antara sebuah berita (dalam hal ini berita duka) dengan konten promosi.
“Secara etika yang berlaku umum di masyarakat maupun profesional, tindakan tersebut dianggap kurang etis atau bahan bisa disebut tidak etis,” jelas Reza. Menurutnya, menggunakan berita duka sebagai jembatan untuk kepentingan komersial sering kali dianggap sebagai tindakan mengeksploitasi kesedihan demi keuntungan materi. Penjelasan ini membuka mata publik bahwa ada istilah teknis dalam dunia marketing untuk praktik semacam ini, dan penggunaannya dalam konteks duka cita jelas melanggar etika sosial.
Permintaan Maaf dan Pelajaran tentang Empati Digital
Menyadari kegaduhan yang ditimbulkannya, Aghnia Punjabi tidak butuh waktu lama untuk merilis pernyataan maaf. Ia mengakui bahwa kontennya telah menimbulkan kesalahpahaman dan menyampaikan penyesalannya dengan kerendahan hati.
“Dengan segala kerendahan hati, saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas konten yang saya unggah dan telah menimbulkan kesalahpahaman,” tulis Aghnia. Ia juga mengenang sosok Vidi Aldiano sebagai pribadi yang selalu membawa keceriaan dan energi positif, termasuk bagi dirinya.
Terlepas dari permintaan maaf tersebut, insiden ini menjadi studi kasus penting bagi para kreator konten. Di tengah tuntutan untuk terus produktif, empati dan kepekaan sosial tidak boleh dikesampingkan. Sebuah duka, terutama yang dialami orang lain, bukanlah komoditas yang bisa dijadikan jembatan untuk mendulang keuntungan.


