Jadigini.com – Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Bagi banyak keluarga Indonesia, bulan suci juga menjadi ruang perenungan, momen mengenang mereka yang telah lebih dulu pergi. Tradisi nyekar atau berziarah menjelang puasa pun masih dijaga, bukan sekadar rutinitas, melainkan cara merawat rindu.
Table Of Content
Suasana itulah yang dirasakan Billy Syahputra setiap kali Ramadan tiba. Ia kembali mendatangi pusara sang kakak, Olga Syahputra, untuk memanjatkan doa agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.
Rindu yang Datang Tanpa Aba-aba
Waktu memang berjalan, tetapi kehilangan tidak pernah benar-benar selesai. Billy mengakui, Ramadan beberapa tahun terakhir terasa berbeda sejak kepergian sang kakak. Ada momen-momen kecil yang tiba-tiba memantik kesedihan, terutama saat ia melihat tumbuh kembang anaknya.
“Ya inilah hidup, mau gimana. Jadi kita cuma jalani hidup apa yang sudah dikasih sama Allah. Waktunya pulang ya pulang. Jadi jangan berlarut-larut dalam kesedihan sih sebenarnya,” kata Billy Syahputra di TPU Malaka, Rabu (18/2/2026).
Namun, ia tak menampik kenangan sering menyusup di saat tak terduga.
“Tapi kadang ingat momen-momen. Dan ini memang apa namanya, hal yang membuat gue sedih kadang kalau di kamar lihat anak gue tuh, kalau Yoga masih ada, abang gue masih ada, pasti senang banget. ‘Yoga, keponakan lo bule.’ Anak Billy tuh bule. Pasti abang gue bilang, ‘Wah Bang Billy sudah punya anak,'” Billy Syahputra menyambung.
Kalimat-kalimat itu memperlihatkan bagaimana duka bisa berdampingan dengan rasa syukur. Ada kebahagiaan menjadi ayah, tetapi ada pula ruang kosong yang tak tergantikan.
Tradisi Lontong Tunjang dan Momen Sederhana
Setiap keluarga punya ritual khas menyambut Ramadan. Dalam keluarga Billy, ada satu menu yang selalu identik dengan hari pertama puasa.
“Yang pertama kalau menjelang puasa nih hari pertama almarhum tuh selalu minta sama Mama masakin lontong sama tunjang. Lontong tunjang. Terus juga kita pasti ngemal, ngemal makan bareng,” katanya.
Bukan hanya soal makanan. Kebersamaan sederhana seperti makan bersama dan berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan justru menjadi kenangan paling kuat.
“Setelah itu besoknya kita jalani bulan puasa. Pokoknya sering bercanda yang lucu-lucunya, terus juga ngobrol sama keluarga,” kenang Billy Syahputra.
Dalam perspektif psikologis, ritual seperti ini memang membantu keluarga menjaga koneksi emosional dengan yang telah tiada. Kenangan tidak dihapus, melainkan dirawat dalam bentuk cerita dan tradisi.
Ziarah di Tengah Gelap dan Macet
Ziarah kali ini dilakukan dalam kondisi yang tidak ideal. Ia tiba saat hari sudah gelap karena pekerjaan dan kemacetan.
“Waktu tahun lalu kalau enggak salah siang-siang datang ke sini. Tapi karena tadi aku sempat bilang, satu aku lagi ada pekerjaan, terus juga jalanan macet banget, makanya ke sini tuh tadi jam berapa ya, jam 6.00, sudah gelap banget,” Billy Syahputra menjelaskan.
Namun baginya, waktu bukanlah inti dari ziarah.
“Yang penting insyaallah doanya sampai walaupun keadaan seperti ini. Terus juga banyak orang yang mendoakan walaupun sudah malam, banyak warga sini yang mendoakan,” ucap Billy Syahputra.
Doa dan Aksi Sosial sebagai Warisan Kebaikan
Ramadan tahun ini tak hanya diisi dengan doa. Billy juga berencana melakukan kegiatan sosial sebagai bentuk penghormatan untuk sang kakak.
“Insyaallah, insyaallah. Mudah-mudahan ya,” ucap Billy Syahputra.
Langkah berbagi atas nama almarhum menjadi cara lain untuk menjaga jejak kebaikan. Di tengah rindu yang tak pernah benar-benar usai, ada tekad untuk melanjutkan nilai-nilai yang pernah diajarkan.
Ramadan, pada akhirnya, bukan sekadar bulan ibadah. Ia juga menjadi ruang menyatukan kenangan, doa, dan harapan—bahwa cinta kepada keluarga tak pernah berhenti, bahkan setelah perpisahan.


