Jadigini.com – Di tengah arus selebritas yang berlomba tetap eksis di layar kaca dan media sosial, memilih mundur sejenak dari sorotan publik bukan keputusan ringan. Apalagi bagi figur yang namanya sudah lama dikenal. Namun, ada fase dalam hidup ketika panggung utama bukan lagi studio televisi, melainkan ruang keluarga sendiri.
Table Of Content
Itulah yang dijalani oleh Cut Tari. Setelah beberapa tahun vakum dari dunia hiburan, ia kini kembali muncul dengan perspektif yang berbeda. Selama rehat, ia memilih fokus menjalani peran sebagai istri dari Richard Kevin dan mengurus rumah tangga.
Rumah Tangga Lebih Sibuk dari Dunia Hiburan?
Bagi sebagian orang, menjadi ibu rumah tangga kerap dipandang sebagai rutinitas yang monoton. Namun pengalaman Cut Tari justru sebaliknya.
“Aduh justru menurut saya seru banget, jadi ibu rumah tangga tuh seru banget dan lebih sibuk dari kerjaan saya kalau misalnya lagi di entertainment,” ujarnya di Detik, Minggu (22/2).
Pernyataan itu menarik. Dunia hiburan dikenal dengan jadwal padat, tekanan rating, hingga tuntutan profesionalisme tinggi. Tetapi menurutnya, urusan domestik bisa jauh lebih menguras tenaga dan perhatian. Mengatur kebutuhan rumah, memastikan semuanya berjalan lancar, hingga hadir secara emosional untuk keluarga adalah pekerjaan tanpa jam kantor.
Menemukan Bahagia dalam Peran Baru
Alih-alih merasa kehilangan panggung, Cut Tari mengaku justru menikmati fase tersebut. Ia merasa lebih hadir dan menjadi andalan bagi orang-orang terdekatnya. Peran ini memberinya tantangan berbeda, yang tak kalah kompleks dibanding aktivitas di depan kamera.
Keputusan untuk fokus pada keluarga tidak ia sesali. Justru di situlah ia menemukan dinamika baru yang sebelumnya mungkin tak sempat dirasakan secara utuh.
Dari Kamera ke Dapur
Menikah membawa perubahan kebiasaan, termasuk dalam urusan dapur. Cut Tari mengaku menemukan hobi baru: memasak.
“Oh saya (hobi) masak loh awal-awal ya, tapi emang masak yang suami suka aja sih gitu. Kalau masak Indonesia saya kurang pinter ya, kenapa? Karena heboh bumbu-bumbunya. Kalau masakan Barat kan lebih dikit bumbunya, asik gampang dipelajarin,” paparnya.
Ia mengakui masih terus belajar, terutama untuk masakan Indonesia yang dinilai lebih kompleks. Namun proses belajar itu justru menjadi pengalaman menyenangkan. Ada kepuasan tersendiri ketika bisa menyajikan hidangan yang disukai pasangan.


