Gaya Hidup Mewah Sekda Sidoarjo: Saat Pesta Bollywood Lebih Disorot Ketimbang Jalan Rusak
Jadigini.com – Media sosial adalah panggung dengan dua sisi mata pisau bagi pejabat publik. Satu unggahan bisa membangun citra merakyat dalam semalam, namun unggahan lainnya bisa memicu badai kritik dalam hitungan jam. Di era digital yang serba terbuka ini, kepekaan dalam memilih apa yang layak ditampilkan menjadi kunci, karena publik kini punya akses langsung untuk menilai dan menghakimi.
Table Of Content
Pelajaran inilah yang mungkin sedang direnungkan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Sidoarjo, Fenny Apridawati. Sebuah acara buka bersama yang seharusnya menjadi momen silaturahmi pribadi justru berbalik menjadi sorotan tajam setelah dokumentasinya viral di dunia maya. Bukan sekadar acara biasa, melainkan sebuah perayaan mewah bertema Bollywood yang digelar di sebuah lokasi eksklusif di Surabaya.
Saat Pesta Bollywood Bertemu Realitas Jalan Berlubang
Dalam sekejap, foto dan video yang menampilkan Fenny bersama sejumlah pejabat perempuan lain dalam balutan busana saree India berwarna merah muda menyebar luas. Pesta yang meriah itu sayangnya terjadi di waktu yang kurang tepat. Di saat yang bersamaan, banyak warga Sidoarjo sedang aktif menyuarakan keluhan mereka mengenai kondisi infrastruktur jalan yang rusak dan berlubang di berbagai titik.
Kontras antara kemewahan pesta dan keluhan publik inilah yang menyulut api kritik. Warganet menilai acara tersebut sebagai bentuk minimnya empati seorang pelayan publik terhadap realitas yang dihadapi warganya. Pesta itu dianggap sebagai sebuah etalase gaya hidup mewah yang tidak sensitif dengan kondisi sosial masyarakat sekitar. Kegaduhan ini membuktikan bahwa bagi seorang pejabat, persepsi publik seringkali sama pentingnya dengan realitas itu sendiri.
Mengintip Garasi dan Properti: Kekayaan Rp6,5 Miliar Jadi Sorotan
Buntut dari viralnya pesta Bollywood, rasa penasaran publik tak berhenti sampai di situ. Harta kekayaan Fenny Apridawati pun ikut “diperiksa” oleh mata jeli warganet melalui Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN). Data yang bersifat publik ini menunjukkan bahwa kekayaan Fenny tercatat mencapai sekitar Rp6,5 miliar.
Jika dirinci, sumber kekayaan terbesarnya berasal dari aset tanah dan bangunan yang tersebar di beberapa lokasi di Sidoarjo. Selain itu, koleksi kendaraannya di garasi juga turut menjadi perhatian, yang terdiri dari dua unit mobil dan satu unit sepeda motor. Angka ini mungkin wajar bagi seorang pejabat dengan karier panjang, namun menjadi bahan perbincangan hangat ketika disandingkan dengan citra kemewahan yang baru saja ditampilkan.
Bukan Uang APBD, tapi Tetap Minta Maaf: Klarifikasi dan Pembelajaran
Menanggapi kegaduhan yang terjadi, Fenny Apridawati tidak tinggal diam. Melalui akun Instagram pribadinya, ia menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat Sidoarjo. Ia menegaskan bahwa acara tersebut murni kegiatan pribadi dan tidak sepeser pun menggunakan dana dari APBD.
Menurutnya, momentum buka bersama itu juga dimanfaatkan sebagai ajang koordinasi informal untuk membahas percepatan program perbaikan jalan (PIWK) dan persiapan distribusi beras SPHP untuk warga. “Kami menyadari sebagai pelayan publik, seharusnya lebih peka dan sensitif dalam mendokumentasikan aktivitas,” tulisnya, sebuah pengakuan bahwa masalah utamanya bukan pada acara itu sendiri, melainkan pada bagaimana acara tersebut ditampilkan ke publik di waktu yang kurang tepat.
Insiden ini menjadi pengingat berharga bahwa di era transparansi, setiap langkah pejabat publik akan selalu berada di bawah mikroskop masyarakat. Garis antara ruang privat dan tanggung jawab publik menjadi semakin tipis, dan empati bukan lagi sekadar kata, melainkan sebuah sikap yang harus tecermin dalam setiap tindakan.


