Jadigini.com – Industri kecantikan beberapa tahun terakhir bergerak sangat cepat. Wajah menjadi “etalase utama” yang terus disorot, mulai dari tren glass skin, skin barrier, hingga ragam serum anti aging. Namun di tengah obsesi kulit wajah yang flawless, ada satu bagian tubuh yang sering terpinggirkan: kulit badan.
Table Of Content
Fenomena ini ternyata juga dialami oleh beauty influencer ternama, Tasya Farasya.
Dikenal luas lewat label “Tasya Farasya Approved”, ia kerap menjadi rujukan banyak orang sebelum membeli produk kecantikan. Rekomendasinya dipercaya, ulasannya ditunggu. Namun di balik citra kulit wajah yang selalu tampak prima, ada cerita reflektif yang cukup menggelitik.
Wajah Terawat, Tubuh Terabaikan?
Di usia 33 tahun, Tasya mengaku sempat terlalu fokus merawat wajah hingga lupa bahwa kulit tubuh juga membutuhkan perhatian yang sama. Ia bahkan menggambarkan kondisi kulit betisnya yang sangat kering sampai terasa seperti bisa “dilukis”.
Pengakuan ini terasa relevan bagi banyak orang. Kita rajin memakai toner, serum, sunscreen berlapis-lapis, tetapi lotion sering kali hanya dipakai sesekali. Padahal, secara fisiologis, kulit tubuh juga mengalami proses penuaan, kehilangan elastisitas, dan penurunan kelembapan.
Kulit kering bukan sekadar masalah estetika. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa menyebabkan iritasi, rasa gatal, hingga memperjelas garis-garis halus. Seiring bertambahnya usia, produksi kolagen menurun dan kemampuan kulit mempertahankan air pun melemah.
Usia 30-an dan Tanda Penuaan yang Tak Terhindarkan
Memasuki usia kepala tiga, perubahan kulit mulai terasa lebih nyata. Elastisitas menurun, tekstur berubah, dan garis halus mulai muncul—bukan hanya di wajah, tetapi juga di area tubuh seperti tangan, lutut, dan kaki.
Tasya menyadari bahwa menjaga keseimbangan perawatan antara wajah dan tubuh adalah bentuk keadilan pada diri sendiri. Jika wajah dirawat dengan produk premium dan rutinitas lengkap, mengapa tubuh justru diabaikan?
Refleksi ini menjadi pengingat bahwa perawatan kulit seharusnya menyeluruh. Body lotion dengan kandungan humektan dan emolien, eksfoliasi ringan secara berkala, serta perlindungan dari paparan sinar matahari pada area tubuh adalah langkah dasar yang sering diremehkan.
Kebiasaan Kopi Saat Puasa dan Dampaknya pada Kulit
Menariknya, Tasya juga menyinggung kebiasaan minum kopi saat berbuka atau sahur sebagai salah satu faktor yang memperburuk kondisi kulit keringnya.
Hal ini diperkuat oleh penjelasan Amanda Nandi Wardani yang menyebut bahwa kopi bersifat diuretik. Artinya, konsumsi kopi dapat memicu tubuh mengeluarkan cairan lebih cepat. Dalam kondisi tubuh yang sudah dehidrasi setelah seharian berpuasa, efek ini bisa memperparah kekurangan cairan.
Ketika tubuh dehidrasi, kulit menjadi salah satu organ pertama yang menunjukkan dampaknya. Tekstur terasa lebih kasar, tampak kusam, dan kehilangan kekenyalan. Karena itu, air putih tetap menjadi prioritas utama saat berbuka, sebelum mengonsumsi minuman berkafein.
Lebih dari Sekadar Glow
Kisah Tasya bukan sekadar cerita tentang kulit kering. Ini tentang kesadaran baru. Tentang bagaimana standar kecantikan yang terlalu terpusat pada wajah bisa membuat kita lupa bahwa tubuh adalah satu kesatuan.
Label “approved” mungkin melekat pada banyak produk, tetapi pengalaman pribadi justru menjadi pelajaran paling jujur. Merawat diri bukan hanya soal tampil glowing di kamera, melainkan menjaga kesehatan kulit secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Bagi pembaca, refleksi ini bisa menjadi momen evaluasi sederhana: sudahkah kita memperlakukan kulit tubuh dengan perhatian yang sama seperti wajah?
Karena pada akhirnya, kulit sehat bukan hanya tentang apa yang terlihat di layar, tetapi tentang keseimbangan yang dirasakan setiap hari.


