Jadigini.com – Ramadan kerap dimaknai sebagai bulan jeda—ruang untuk menahan diri, meredam ego, dan menata ulang arah hidup. Namun ketika persoalan pribadi dan tekanan publik datang bersamaan, bulan suci justru bisa terasa lebih sunyi dari biasanya.
Table Of Content
Fenomena ini tidak hanya dialami masyarakat umum. Figur publik pun merasakannya. Di tengah sorotan atas laporan dugaan perzinaan yang dilayangkan oleh Wardatina Mawa, nama Insanul Fahmi kembali menjadi perhatian.
Ramadan yang Tidak Lagi Sama
Tahun ini, suasana Ramadan bagi Insanul Fahmi jelas berbeda. Ia menghadapi proses hukum yang juga menyeret nama Inara Rusli. Meski demikian, ia menegaskan tetap menjalankan ibadah puasa seperti biasa.
“Ya sudah jalani saja. Sahur ya sahur,” ungkap Insanul Fahmi ketika dijumpai di kawasan Jakarta Barat, pekan ini.
Kalimat sederhana itu menggambarkan sikap menerima keadaan. Di baliknya, ada perubahan besar dalam ritme hidupnya—terutama ketika kebersamaan keluarga tak lagi hadir seperti Ramadan sebelumnya.
Mengelola Rindu dan Tekanan Mental
Dalam situasi seperti ini, tekanan psikologis sering kali lebih berat daripada tekanan publik. Ia mengakui rasa rindu terhadap keluarga datang tiba-tiba dan sulit dibendung.
“Teringat pasti ada, kangen pasti ada. Cuma ya mau bagaimana lagi? Kadang-kadang terlalu dipikirin juga jadi stres,” katanya.
Pengakuan ini memperlihatkan sisi manusiawi di balik konflik hukum yang berjalan. Dalam konteks yang lebih luas, Ramadan memang sering menjadi momen refleksi emosional. Ketika waktu senggang lebih banyak, pikiran pun cenderung kembali pada hal-hal yang belum selesai.
Alihkan Energi ke Aktivitas Produktif
Alih-alih tenggelam dalam kesedihan, Insanul Fahmi memilih menyibukkan diri. Ia mencoba mengalihkan energi pada kegiatan yang dirasanya lebih bermanfaat, salah satunya membantu distribusi takjil.
“Jadi bagus gimana aku mikirin oh ini bulan puasa. Ada orang jualan takjil, gimana cara aku bisa distribusi kue-kue tadi nih bisa dijualin sama abang-abang nanti bagi hasil. Fokus kayak gitu-gitu aja sih, bermanfaat buat orang. Daripada… daripada harus mikirin sedih terus kan,” papar Insanul Fahmi.
Langkah tersebut bukan hanya strategi pengalihan emosi, tetapi juga bentuk adaptasi. Dalam banyak kasus, aktivitas sosial dapat menjadi katarsis—cara sehat untuk meredakan beban batin.
Momentum Introspeksi di Tengah Ujian
Ramadan identik dengan perbaikan diri. Bagi Insanul Fahmi, situasi yang sedang dihadapi justru dijadikan alasan untuk memperdalam refleksi spiritual.
“Lebih banyak perbaikan diri. Lebih fokus karena lebih banyak waktu sendiri. Jadi aku lebih banyak introspeksi diri saja sih,” ucapnya.
Ia juga menambahkan bahwa aktivitas religius menjadi penopang di tengah kesunyian.
“Banyak-banyak baca Quran, banyak salat, banyak zikir. Karena puasa kan enggak bisa nongkrong juga. Paling sama Bang Tommy ada urusan,” pungkas Insanul Fahmi.
Di tengah proses hukum yang masih berjalan, pilihan untuk fokus pada ibadah dan aktivitas produktif menunjukkan satu hal: setiap krisis bisa dimaknai sebagai ruang evaluasi. Soal bagaimana akhirnya persoalan ini bermuara, tentu akan ditentukan oleh proses hukum yang berlaku.
Sementara itu, Ramadan tetap berjalan. Dan bagi sebagian orang, justru di saat paling sulit itulah makna pengendalian diri benar-benar diuji.


