Jadigini.com – Di ruang publik, perempuan sering dituntut tampil prima dalam dua dunia sekaligus: keluarga dan karier. Ketika keduanya berjalan beriringan, kompromi kerap tak terhindarkan. Terlebih jika profesinya menuntut kehadiran cepat dan responsif, seperti di dunia politik yang dinamis.
Table Of Content
Itulah realitas yang dihadapi Tina Toon, anggota DPRD DKI Jakarta yang juga baru saja menjalani peran sebagai ibu. Alih-alih menikmati cuti panjang setelah melahirkan, ia memilih segera kembali bekerja demi memenuhi tanggung jawabnya sebagai wakil rakyat.
Sulitnya “Cuti Tenang” di Dunia Politik
Dalam praktiknya, melayani konstituen bukan pekerjaan yang bisa ditunda. Laporan warga datang tanpa jadwal tetap: banjir, jalan rusak, hingga persoalan sosial lainnya.
“Waktu itu memang ternyata, kalau di kerja politik, melayani warga, melayani masyarakat, kayaknya susah untuk benar-benar cuti yang tenang saja gitu. Entar kadang banjir, entar kadang ada jalan rusak, entar kadang ada begini, begitu. Jadi sebisa mungkin mengatur waktu saja,” ungkap Tina Toon di Kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Kamis (19/2/2026).
Situasi tersebut membuatnya harus pandai membagi waktu antara bayi yang baru lahir dan tanggung jawab publik yang tak bisa menunggu.
Pelajaran Penting Soal Hak Ibu
Tina melahirkan melalui prosedur bedah caesar, yang secara medis termasuk operasi besar dan membutuhkan pemulihan optimal. Namun ia mengaku hanya beristirahat sekitar satu hingga dua minggu sebelum kembali aktif.
“Memang ini juga pelajaran buat aku, dan mungkin untuk ibu baru atau yang mungkin sudah mengalami melahirkan. Ternyata melahirkan itu prosedur yang besar juga. Cuti itu juga sebetulnya diberikan hak. Karena ketika aku kemarin melahirkan, cuma seminggu dua minggu paling aku break tuh, benar-benar kayak jahitan beres, sudah, langsung ke sini ke sono gitu,” Tina Toon menyambung.
Pengakuan ini menarik, karena di satu sisi ia menunjukkan dedikasi tinggi terhadap pekerjaan, tetapi di sisi lain ia juga menyoroti pentingnya hak cuti bagi ibu melahirkan. Dalam konteks kesehatan perempuan, masa nifas dan pemulihan pascaoperasi memegang peran krusial untuk mencegah komplikasi jangka panjang.
Efek Samping yang Tak Terhindarkan
Keputusan untuk cepat kembali bekerja rupanya berdampak pada kondisi fisiknya. Kurang istirahat membuat tubuhnya memberi sinyal.
“Tapi memang ada side effect, kayak kemarin sempat darah rendah, kurang kalsium, apa. Jadi terus sempat jadi kayak istirahat sebentar, terus ini lagi. Tapi memang dasarnya lincah kali ya, jadi enggak dirasa,” jelasnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan dilema klasik perempuan pekerja: antara dorongan tanggung jawab dan kebutuhan tubuh untuk pulih. Meski ia mengaku tetap lincah dan aktif, tubuh tetap memiliki batas.


