Jadigini.com – Memasuki bulan suci, salah satu ‘drama’ manis yang kerap terjadi di banyak keluarga adalah momen mengenalkan ibadah puasa pada anak. Dari yang awalnya hanya ikut sahur dan berbuka, hingga mencoba puasa setengah hari, setiap langkah kecil mereka adalah sebuah pencapaian. Namun, tantangan terbesar datang saat si kecil mulai diajak untuk menahan lapar dan dahaga hingga waktu Magrib tiba.
Nah, di sinilah kreativitas orang tua sering kali diuji. Berbagai metode pun diterapkan, mulai dari bujukan halus, penjelasan logis, hingga salah satu yang paling populer sekaligus kontroversial: sistem imbalan atau hadiah. Strategi ini dianggap ampuh untuk memompa semangat anak, namun tak jarang juga dicap sebagai ‘sogokan’ yang bisa menggeser esensi ibadah.
Salah satu figur publik yang secara terbuka menerapkan metode ini adalah Deswita Maharani. Ia tak ragu menggunakan ‘pancingan’ hadiah untuk memotivasi putranya, Kabay Anaking Maryadi (Abay), agar bersemangat menuntaskan puasa sehari penuh.
Hadiah sebagai Apresiasi, Bukan Sogokan?
Bagi Deswita, pendekatan ini terbukti efektif. Ia mulai mengajarkan Abay untuk berpuasa penuh sejak putranya menginjak usia 7 tahun. Menurutnya, hadiah yang sengaja ia siapkan bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah bentuk apresiasi atas usaha dan perjuangan si anak yang baru belajar. Dalam kacamata psikologi parenting, ini dikenal sebagai penguatan positif (positive reinforcement).
Ketika seorang anak berhasil melalui tantangan berat—dalam hal ini menahan lapar dan haus seharian—dan kemudian mendapatkan penghargaan, otaknya akan mengasosiasikan pengalaman puasa dengan sesuatu yang positif dan membanggakan. Hadiah tersebut menjadi simbol konkret dari pencapaian mereka, membuat semangatnya tetap menyala untuk mencoba lagi di hari berikutnya.
Risiko Ketergantungan dan Makna yang Bergeser
Namun, di sisi lain, metode ini bukannya tanpa kritik. Sebagian kalangan khawatir pendekatan ‘hadiah’ dapat membuat anak menjadi transaksional dalam beribadah. Fokusnya bisa bergeser dari memahami makna menahan diri dan empati terhadap sesama, menjadi sekadar mengejar target demi mendapatkan barang yang diinginkan.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apa yang terjadi jika hadiahnya dihentikan? Akankah semangat berpuasa itu ikut luntur? Di sinilah peran orang tua menjadi krusial. Memberikan imbalan di tahap awal perkenalan mungkin bisa menjadi pemantik yang baik. Akan tetapi, tugas selanjutnya yang lebih penting adalah secara perlahan memberikan pemahaman tentang makna dan tujuan puasa yang sesungguhnya, sehingga motivasi internal anak dapat terbangun dengan sendirinya.
Pada akhirnya, metode Deswita Maharani ini adalah cerminan dari dilema parenting modern. Tidak ada formula yang benar-benar salah atau benar. Efektivitasnya sangat bergantung pada cara penyampaian, komunikasi, dan tujuan jangka panjang yang ingin ditanamkan orang tua kepada sang anak.


